Watno juga menyoroti adanya spatial mismatch ketimpangan geografis antara lokasi pencari kerja dan pusat industri. "Pertumbuhan industri di Jabar cenderung terkonsentrasi di wilayah seperti Karawang, Bekasi, dan Cikarang, sementara daerah seperti Garut, Tasikmalaya, dan Sukabumi masih tertinggal dalam penyerapan tenaga kerja," jelasnya.
Bagaimana Solusinya?
Pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak tinggal diam. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meresmikan program Jabar Istimewa Digital Academy (JIDA) 2025 pada 5 Juni 2025, sebuah inisiatif untuk meningkatkan literasi dan kompetensi digital generasi muda.
"Kami sadar bahwa dunia digital berkembang sangat pesat dan tidak semua orang dapat mengikuti dengan kecepatan yang sama. JIDA hadir untuk memberikan pelatihan yang terstruktur dan relevan," ujar Dedi Mulyadi.
Program JIDA menawarkan berbagai kelas pelatihan, antara lain Programming Berbasis AI, Digital Marketing Berbasis AI, Computer Network and Cybersecurity, Kelas Siber untuk IKM, Content Creator Berbasis AI, serta Fundamental AI untuk ASN.
Program ini merupakan hasil kolaborasi dengan mitra global seperti Microsoft, Amazon Web Services (AWS), dan Pemerintah Inggris.
Tak hanya itu, sektor ekonomi kreatif menjadi tumpuan harapan. Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman menyebutkan Jawa Barat berkontribusi sebesar 20,73% terhadap PDB ekonomi kreatif nasional, dengan nilai mencapai sekitar Rp310 triliun.
Dari total 27,4 juta tenaga kerja kreatif di Indonesia, sebanyak 6,2 juta berbasis di Jawa Barat.
Dalam program Badan Ekraf Developer Day (BDD) 2025 di Bandung, dari 2.300 pendaftar terpilih 1.000 talenta digital, dengan 800 di antaranya adalah warga Jawa Barat. "Rata-rata peserta adalah Gen-Z dan Milenial. Bagi yang belum bekerja, akan langsung kami salurkan ke dunia industri atau didorong mengeksekusi usaha rintisannya sendiri," ujar Herman.
Selain itu, Gubernur Dedi Mulyadi juga berencana menempatkan psikolog di setiap sekolah SMP dan SMA di Jawa Barat untuk mengantisipasi masalah kesehatan mental yang meningkat di kalangan Gen Z.
"Penyebab utama menurunnya moral generasi Z berasal dari perubahan sosial yang drastis. Gawai dan media sosial sebagai dua faktor utama yang mempersempit ruang gerak anak-anak dan mengganggu perkembangan mental mereka," tegas Dedi Mulyadi.
Dengan total penduduk yang terus bertumbuh dan dominasi Gen Z yang tak terbantahkan, Jawa Barat berada di persimpangan krusial.
Apakah bonus demografi akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi atau justru berubah menjadi beban sosial, akan sangat ditentukan oleh seberapa cepat dan tepat pemerintah daerah menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan, keterampilan digital, dan kebutuhan industri.
Data-data terbaru menunjukkan bahwa waktu yang tersisa untuk bertindak semakin sempit.
Baca Juga: OPINI - Arabisme yang Menyamar sebagai Keimanan
Artikel Terkait
SKB Dua Menteri dan Rumah Ibadah: Kebijakan Kerukunan yang Mengorbankan Minoritas
Bank Syariah dan Ekonomi Moral: Ketika Agama Menjadi Instrumen Finansial Negara
Bank Syariah antara Klaim, Narasi dan Realitas.
Bank Syariah dan Utang Konsumtif: Masalah Paling Nyata yang Jarang Dibicarakan
Kebenaran yang Jarang Diakui: Mengapa Rumah Dekat Masjid Sering Didiskon Pasar
Underpass Padalarang Cimahi Segera Eksekusi, Antara Solusi Mendesak atau Beban Fiskal Baru
Menelisik ‘Ketidakistimewaan’ Bahasa Arab Antara Sakralitas dan Realitas Global
OPINI - Arabisme yang Menyamar sebagai Keimanan
Kritik: Logika Konyol Seorang Pemimpin yang Anti-Kritik
Serapan Angrendah hingga Polemik Belanja Alat Makan, Badan Gizi Nasional Disorot