PROJABAR.COM - Ada sebuah paradoks yang jarang dibicarakan dengan jujur di negeri ini. Indonesia adalah rumah bagi populasi Muslim terbesar di dunia sekitar 240 juta jiwa. Namun semakin hari, semakin banyak Muslim Indonesia yang merasa perlu tampil seperti orang Arab untuk membuktikan keislaman mereka.
Baca Juga: Kebenaran yang Jarang Diakui: Mengapa Rumah Dekat Masjid Sering Didiskon Pasar
Mereka berbicara dengan menyisipkan kata "ana" dan "antum", mengenakan thawb di bumi tropis, membangun masjid bergaya Timur Tengah di atas tanah Jawa, dan perlahan-lahan memandang rendah tradisi nenek moyang mereka sendiri sebagai sesuatu yang kurang suci, bahkan sesat.
Ini bukan soal selera berpakaian. Ini adalah gejala sebuah penyakit mental kolektif yang lebih dalam ketidakmampuan atau keengganan untuk membedakan antara Islam sebagai agama universal dan Arab sebagai salah satu etnis di muka bumi.
"Arabisasi bukan jalan menuju Tuhan. Ia adalah instrumen hegemoni yang berhasil menyamar sebagai dakwah."
Kolonialisme yang Disambut dengan Senyum
Kolonialisme paling berbahaya bukan yang datang dengan tentara dan meriam. Yang paling berbahaya adalah yang datang membawa kitab suci, lalu perlahan meyakinkan yang dijajah bahwa budaya mereka sendiri inferior bahwa cara penjajah adalah cara yang benar, cara yang lebih tinggi, cara yang lebih dekat dengan surga.
Inilah yang sedang terjadi. Dan yang paling menyedihkan korbannya ikut serta dengan sukarela, bahkan dengan kebanggaan. Orang Jawa, Sunda, Bugis, Batak rela meninggalkan identitas lokalnya demi tampil lebih "Arab" bukan karena ada yang memaksa, melainkan karena mereka sudah menginternalisasi satu keyakinan berbahaya: bahwa Arab sama dengan islami, dan islami sama dengan Arab.
Ini adalah logical fallacy yang monumental. Islam adalah agama. Arab adalah etnis. Keduanya tidak saling mensyaratkan. Nabi Muhammad lahir di tanah Arab bukan karena Arab lebih suci dari Jawa, melainkan karena sejarah manusia selalu dimulai dari suatu titik dan titik itu kebetulan ada di Jazirah Arabia.
"Orang Arab sendiri tidak menganggap orang Indonesia yang ber-Arab-araban sebagai setara. Ia hanya tiruan menggantung di antara dua dunia, tidak utuh di keduanya."
Proyek Kekuasaan yang Disebut Dakwah
Mari kita jujur tentang sesuatu yang sering dihindari. Wahhabisme ideologi yang paling agresif mendorong Arabisasi global tidak lahir dari pencerahan spiritual. Ia lahir dari perjanjian politik antara Muhammad bin Abd al-Wahhab dan keluarga Saud pada tahun 1744. Ketika minyak ditemukan di bawah gurun Arabia dan petrodollar mengalir deras pada dekade 1970-an, Saudi mendapatkan amunisi tak terbatas dana untuk mengekspor ideologi ke seluruh penjuru dunia.
Di Indonesia, hasilnya terlihat nyata. Ribuan pesantren mendapat suntikan dana. Jutaan eksemplar literatur didistribusikan gratis. Beasiswa ke Madinah dibuka lebar. Semua ini bukan murni kebaikan hati. Di baliknya ada agenda yang sangat manusiawi standardisasi, kontrol narasi, dan perluasan pengaruh geopolitik.
Arabisasi, dengan demikian, bukan proyek spiritual. Ia adalah proyek kekuasaan yang sangat berhasil menyamar sebagai proyek spiritual. Dan kita dengan bangga mengenakan jubah gurun pasir di kota tropis menjadi agen penyebarannya tanpa sadar.
Kekerasan Senyap terhadap Warisan Sendiri
Ketika seorang pemuda Jawa diberitahu bahwa tahlilan adalah bid'ah, bahwa kenduri adalah syirik, bahwa wayang mengandung unsur haram apa yang sebenarnya terjadi?
Ia tidak sedang diajarkan agama. Ia sedang diajarkan untuk membenci warisan budayanya sendiri. Ribuan tahun tradisi lokal yang telah mengintegrasikan Islam dengan sangat halus melalui tangan para Wali Songo, melalui syair pesisir, melalui arsitektur masjid yang memadukan elemen Hindu-Buddha dengan nilai Islam semuanya dinyatakan tidak sah oleh seseorang yang baru kembali dari Riyadh dengan pikiran penuh doktrin gurun pasir.
Dan yang melakukan penghancuran ini sering bukan orang Arab. Ia adalah seorang Indonesia yang sudah terinternalisasi pandangan Arab-sentris yang menjajah sesama orang Indonesia. Penjajahan yang dilakukan oleh sesama yang terjajah. Inilah yang paling menyakitkan.
Artikel Terkait
APBN Defisit Rp240,1 Triliun per Maret 2026, Menkeu Purbaya: Jangan Kaget, Ini Sudah Desain Awal
Tiket Pesawat Resmi Naik Maksimal 13 Persen, Pemerintah Hapus Bea Masuk Suku Cadang
Menteri PKP: Banyak Lahan KAI Dikuasai Pihak Lain, Butuh 'Nyali' Ambil Alih untuk Rakyat
Puskesmas Cisauk Gelar ORI Campak, Langkah Cegah Kejadian Luar Biasa di Kabupaten Tangerang
10 Penyakit Paling Mematikan di Dunia: Data WHO 2021 dan Ancaman bagi Indonesia
Rahasia Kesehatan Mental Tersembunyi di Piring Makan Anda
Kredit Perbankan Jabar Tembus Rp1.014 Triliun, OJK Pastikan Stabilitas Terjaga di Awal 2026
Menelisik ‘Ketidakistimewaan’ Bahasa Arab Antara Sakralitas dan Realitas Global
Jabar Resmi Teken Kerja Sama Pengolahan Sampah Jadi Listrik, Bandung Raya dan Bogor-Depok Prioritas
6 Kampus Pendidikan Terbaik di Indonesia 2026 Versi QS, UPI Melesat ke Peringkat 101-150 Dunia