Bonus Demografi di Persimpangan: 26,86% Penduduk Jabar Gen Z, Tapi 40% Lebih Masih Menganggur

photo author
- Jumat, 17 April 2026 | 17:08 WIB
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mendukung tren gen z nikah di KUA. (Dok Humas Jabar)
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mendukung tren gen z nikah di KUA. (Dok Humas Jabar)

PROJABAR.COM - Jawa Barat tengah berdiri di persimpangan bonus demografi. Di satu sisi, penduduk usia muda mendominasi struktur kependudukan provinsi terpadat di Indonesia ini. Di sisi lain, jutaan anak muda dari generasi Z justru menghadapi kenyataan pahit berpendidikan tetapi tak kunjung mendapatkan pekerjaan.

Data-data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan instansi terkait menunjukkan bahwa bonus demografi bisa berubah menjadi beban demografi jika persoalan struktural ini tidak segera diatasi.
Baca Juga: Serapan Angrendah hingga Polemik Belanja Alat Makan, Badan Gizi Nasional Disorot

Siapa dan Berapa Banyak?

Generasi Z merujuk pada kelompok penduduk yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, saat ini berusia antara 12 hingga 27 tahun. Berdasarkan data BPS yang diolah Databoks, proporsi Gen Z di Jawa Barat mencapai 26,86% dari total penduduk, sedikit di atas milenial yang sebesar 26,21%. Sementara itu, data BPS Provinsi Jawa Barat tahun 2025 memproyeksikan total penduduk Jawa Barat mencapai sekitar 51,1 juta jiwa, dengan Gen Z dan Milenial bersama-sama mendominasi hingga 53%.

Secara jumlah absolut, BPS dalam publikasi "Provinsi Jawa Barat Dalam Angka 2024" mencatat penduduk Gen Z di Jawa Barat mencapai 8.121.701 jiwa, belum termasuk kelompok umur 10–14 tahun (3.910.701 jiwa) dan 25–29 tahun (4.081.583 jiwa). Jika ditotal secara lebih luas, populasi Gen Z di Jawa Barat mendekati 13 juta jiwa.

Di Mana dan Kapan?

Tren ini terkonfirmasi dalam berbagai survei ketenagakerjaan sepanjang 2023 hingga 2025. Data Sakernas BPS menunjukkan tingkat pengangguran usia muda (15–24 tahun) di Jawa Barat pada 2024 berada di angka 23,63% artinya satu dari lima anak muda adalah penganggur.

Bahkan, berdasarkan laporan Jabar Ekspres pada 10 November 2025, tingkat pengangguran kelompok usia muda di Jawa Barat lebih dari 40%, jauh di atas rata-rata usia produktif lainnya.

Secara spasial, pengangguran Gen Z tidak merata. Kota Cimahi mencatat tingkat pengangguran terbuka tertinggi di Jawa Barat, mencapai 8,97%.

Di sisi lain, fenomena NEET (youth not in education, employment, and training) yaitu anak muda yang tidak bersekolah, tidak bekerja, dan tidak mengikuti pelatihan juga mengkhawatirkan.

Data BPS per akhir 2025 menunjukkan proporsi NEET di Jawa Barat mencapai 24,84%, salah satu yang tertinggi secara nasional.

Mengapa Hal Ini Terjadi? (Why)

Pengamat ekonomi dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P Sasmita, menjelaskan bahwa lapangan kerja konvensional yang tersedia tidak sesuai dengan karakter Gen Z yang lebih menyukai pekerjaan digital, kreatif, dan fleksibel secara waktu. "Sementara itu, investasi di sektor teknologi dan startup yang cenderung lebih sesuai dengan karakter Gen Z tidak terlalu ekspansif," ujarnya.

Fenomena ini juga menimbulkan apa yang disebut "paradoks Gen Z". "Gen Z kini menghadapi paradoks. Mereka lebih terdidik dibanding generasi sebelumnya, tapi justru paling banyak menganggur," ujar Watno, pengamat ekonomi yang dikutip Jabar Ekspres.

Data BPS memperkuat pernyataan ini dari total pengangguran Gen Z di Jawa Barat pada 2023 sebanyak 1.169.192 orang, mayoritas adalah lulusan SMA/SMK (1.065.485 jiwa), disusul lulusan SD (363.602 jiwa) dan diploma/S1 (144.781 jiwa).
Baca Juga: Kritik: Logika Konyol Seorang Pemimpin yang Anti-Kritik

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Muhammad Cikal Bintang Sayyid Arrazy

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X