PROJABAR.COM - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat menyatakan kinerja sektor jasa keuangan di wilayahnya tetap terjaga stabil hingga Triwulan I 2026, meskipun masih dihadapkan pada dinamika ekonomi global dan nasional.
Baca Juga: Rahasia Kesehatan Mental Tersembunyi di Piring Makan Anda
Pernyataan tersebut disampaikan Kepala OJK Provinsi Jawa Barat, Darwisman, dalam kegiatan media update Triwulan I 2026 di Bandung pada Rabu, 1 April 2026.
Kepala OJK Jawa Barat Darwisman mengungkapkan bahwa indikator utama perbankan di Jabar menunjukkan pertumbuhan positif secara tahunan (year on year/YoY).
Hingga Januari 2026, total aset perbankan tumbuh 5,27 persen, Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 6,78 persen, dan penyaluran kredit tercatat tumbuh 2,57 persen.
“Kami melihat sektor jasa keuangan di Jawa Barat masih mampu menjaga stabilitas dan tumbuh positif, meskipun tekanan ekonomi global dan nasional cukup tinggi,” ujar Darwisman, Kamis (2/4/2026).
Dari sisi risiko, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) tercatat sebesar 3,39 persen. Angka ini dinilai masih berada dalam batas aman yang ditetapkan regulator.
Sementara fungsi intermediasi yang tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) mencapai 138,65 persen. Kondisi ini menunjukkan volume penyaluran kredit lebih besar dibandingkan dana yang dihimpun dari masyarakat.
Secara nominal, total penyaluran kredit perbankan di Jawa Barat tercatat sebesar Rp1.014,91 triliun. Dengan nilai tersebut, Jabar menempati posisi kedua terbesar secara nasional dengan kontribusi 11,92 persen dari total kredit nasional yang mencapai Rp7.951 triliun (tumbuh 9,85 persen).
Namun dari sisi pertumbuhan, kinerja kredit Jabar masih di bawah beberapa daerah lain seperti DKI Jakarta (19,81 persen), Kalimantan Timur (6,26 persen), dan Sumatera Utara (4,85 persen).
Berdasarkan sektor ekonomi, penyaluran kredit terbesar disalurkan ke sektor rumah tangga sebesar Rp436,08 triliun (tumbuh 5,30 persen YoY). Disusul industri pengolahan sebesar Rp168,63 triliun (tumbuh 6,91 persen YoY).
Perlambatan pertumbuhan kredit dipengaruhi oleh penurunan signifikan pada sektor perdagangan besar dan eceran sebesar Rp819 miliar. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan juga mengalami penurunan sebesar Rp3,76 triliun.
Penurunan tersebut dipicu oleh meningkatnya risiko kredit di sektor-sektor terkait. Meski demikian, beberapa sektor masih mencatat pertumbuhan dengan risiko relatif rendah.
Sektor konstruksi misalnya, masih tumbuh 3,53 persen YoY dengan NPL 3,68 persen. Sementara kategori bukan lapangan usaha lainnya tumbuh 6,22 persen.
OJK Jawa Barat akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas sektor keuangan. Upaya ini sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Baca Juga: 10 Penyakit Paling Mematikan di Dunia: Data WHO 2021 dan Ancaman bagi Indonesia
Artikel Terkait
Diduga Dibobol Hacker, Jutaan Data Penduduk Kota Bandung Terancam Bocor
Program 3 Juta Rumah: Pemprov Jabar dan Kementerian PKP Siap Bangun Hunian Vertikal TOD di Kiaracondong
Bayar Pajak Kendaraan di Jabar Kini Cukup Bawa STNK, KTP Pemilik Pertama Tak Lagi Diperlukan
BMKG Peringatkan Hujan Lebat Sepekan ke Depan, Warga Jabar Diminta Waspada
APBN Defisit Rp240,1 Triliun per Maret 2026, Menkeu Purbaya: Jangan Kaget, Ini Sudah Desain Awal
Tiket Pesawat Resmi Naik Maksimal 13 Persen, Pemerintah Hapus Bea Masuk Suku Cadang
Menteri PKP: Banyak Lahan KAI Dikuasai Pihak Lain, Butuh 'Nyali' Ambil Alih untuk Rakyat
Puskesmas Cisauk Gelar ORI Campak, Langkah Cegah Kejadian Luar Biasa di Kabupaten Tangerang
10 Penyakit Paling Mematikan di Dunia: Data WHO 2021 dan Ancaman bagi Indonesia
Rahasia Kesehatan Mental Tersembunyi di Piring Makan Anda