Menteri UMKM: Pelaku Usaha Tahan Harga Jual di Tengah Lonjakan Harga Plastik 40-60 Persen

photo author
- Kamis, 9 April 2026 | 20:53 WIB
Ilustrasi UMKM
Ilustrasi UMKM

PROJABAR.COM - Menteri Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mengungkapkan, para pelaku UMKM lebih memilih menahan harga jual produk mereka meskipun harga plastik sebagai bahan baku kemasan melonjak drastis hingga 60 persen.
Baca Juga: Harga Plastik Melonjak 4 Kali Lipat, Wali Kota Bandung Ajak Warga Ubah Kebiasaan Belanja

Keputusan ini diambil demi menjaga daya beli masyarakat dan loyalitas pelanggan di tengah tekanan biaya produksi yang terus membengkak.

“UMKM berusaha menjaga harga barang di mata masyarakat dan pembeli. Mereka tidak menaikkan harga jual, tetapi konsekuensinya keuntungan menjadi menipis karena biaya produksi naik,” ujar Maman dalam temu media di Jakarta, Kamis (9/4/2026).

Dalam sepekan terakhir, Kementerian UMKM menerima banyak keluhan dari pelaku usaha terkait kenaikan harga plastik yang semakin memberatkan.

Berdasarkan laporan Kementerian UMKM, kenaikan harga plastik mencapai rata-rata 40–60 persen, yang berdampak langsung pada penurunan margin keuntungan dan omzet UMKM dengan rata-rata penurunan hingga 50 persen.

“Angka kenaikan harga plastik misalnya tadi dari harga pertama Rp1.000, rata-rata naiknya kurang lebih 40–60 persen. Berarti kurang lebih sekitar Rp400-an. Nah itu kan lumayan,” kata Maman saat ditemui di Kantor Kementerian UMKM, Jakarta.

Apa penyebab lonjakan harga plastik? Gangguan distribusi nafta, turunan minyak bumi yang menjadi bahan baku utama plastik, serta lonjakan harga minyak global akibat konflik di Timur Tengah menjadi pemicu utamanya.

Indonesia masih sangat bergantung pada impor bahan baku plastik, mencapai 55 persen. Dari jumlah tersebut, sekitar 70 persen distribusi melewati jalur Selat Hormuz yang saat ini terdampak konflik geopolitik, sehingga mengganggu rantai pasok global.

Data Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI) pada 2026 menunjukkan kelangkaan nafta telah menurunkan kapasitas produksi plastik, bahkan menyebabkan sejumlah lini produksi terhenti.

Siapa saja yang terdampak? Mayoritas UMKM makanan dan minuman yang masih bergantung pada kemasan plastik menjadi pihak paling terimbas. Industri kemasan plastik dalam negeri sendiri mendominasi pasar hingga 67,61 persen pada 2025, dengan sektor makanan sebagai kontributor terbesar.

Ketua Umum GAPMMI Adhi S. Lukman mengatakan produksi industri hulu plastik di dalam negeri turun hingga sekitar sepertiga kapasitas. Bahkan, sejumlah pemasok tidak dapat berproduksi karena keterbatasan bahan baku.

Ia menyebut kenaikan harga di tingkat produsen berkisar 30 persen hingga 60 persen, bahkan di tingkat pedagang bisa mencapai dua kali lipat akibat keterbatasan stok. “Saya dapat info juga bahkan beberapa pedagang plastik itu menaikkan harga bisa sampai 100 persen karena mereka merasa stoknya terbatas, sementara dibutuhkan,” kata Adhi.

Di pasaran, harga plastik mengalami lonjakan signifikan. Pantauan di wilayah Lenteng Agung, Jakarta Selatan, menunjukkan harga plastik kantong naik dari Rp15 ribu menjadi Rp23 ribu, sedotan naik dari Rp8 ribu menjadi Rp10 ribu, dan plastik kemasan merek tomat melonjak dari Rp36 ribu menjadi Rp60 ribu per pak.

Kapan keluhan ini mulai bermunculan? Maman mengatakan dalam sepekan terakhir pihaknya menerima banyak keluhan dari pelaku UMKM terkait kenaikan harga plastik yang semakin memberatkan usaha mereka.

Kenaikan terjadi sejak pekan kedua Ramadhan dan terus berlanjut setiap pekan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebutkan kenaikan harga plastik bersifat sementara karena dipengaruhi oleh harga bahan baku global dan masih panasnya konflik di Timur Tengah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Muhammad Cikal Bintang Sayyid Arrazy

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

10 Tantangan Ekonomi Indonesia saat ini tahun 2026

Senin, 30 Maret 2026 | 05:43 WIB
X