PROJABAR.COM - Presiden Prabowo Subianto mengaku heran dengan sikap kelompok masyarakat yang enggan bekerja sama tetapi gemar melontarkan kritik. Kepala Negara menyampaikan sindiran itu saat memberikan taklimat kepada para menteri dan eselon I di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Baca Juga: 6 Kampus Pendidikan Terbaik di Indonesia 2026 Versi QS, UPI Melesat ke Peringkat 101-150 Dunia
“Hanya saya juga enggak mengerti, kalau orang lagi mau membangun jembatan, ada yang duduk, dia tidak mau ikut bangun jembatan, tapi dia kritik,” kata Prabowo di hadapan para pembantunya.
Prabowo menegaskan bahwa perbedaan sikap adalah hal yang wajar dalam demokrasi. Namun, persoalan muncul ketika kritik tidak diiringi kontribusi nyata. Ia menggunakan analogi pembangunan jembatan di sebuah desa. Mayoritas warga bergotong royong, sementara segelintir pihak hanya menjadi penonton.
“Yang mau bangun jembatan, ayo kita bangun jembatan. Yang enggak mau ikut bangun jembatan, ya enggak ada masalah. Silakan saudara duduk, nonton, atau apa, boleh kritik, boleh,” ujar Prabowo.
Ia menyoroti ironi ketika pihak yang tidak terlibat justru menjadi paling vokal dalam mengkritik. Mereka menilai Prabowo bodoh dan salah dalam membangun jembatan.
“Saya goblok, tapi rakyat desa minta jembatan, saya bangun jembatan untuk rakyat kita,” tegas Prabowo membalas kritik yang dilayangkan kepadanya.
Prabowo menjelaskan fenomena ini bukan hal baru. Ia mengaitkannya dengan sejarah panjang bangsa sejak masa penjajahan.
“Selalu ada saudara-saudara kita dari bangsa kita sendiri yang juga mempermudah bangsa asing itu menjajah kita, merampok kekayaan kita,” jelas Prabowo.
Menurut Prabowo, sikap seperti dengki, iri, kebencian, dan dendam merupakan bagian dari sifat manusia. Ia meminta semua pihak untuk tidak kaget menghadapi fenomena tersebut. Sindiran keras ini disampaikan di tengah upaya pemerintah mempercepat pembangunan infrastruktur. Tercatat, 218 jembatan telah diresmikan dalam 2,5 bulan.
Peresmian 218 jembatan itu dilakukan secara hybrid oleh Presiden Prabowo dari kediamannya di Hambalang, Bogor, pada Senin (9/3/2026).
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak melaporkan bahwa total 1.072 jembatan sedang dalam proses pengerjaan. Dari jumlah itu, 218 jembatan telah selesai. Pembangunan jembatan ini merupakan bagian dari program percepatan infrastruktur. Tujuannya untuk mempermudah mobilitas warga dan akses anak-anak sekolah di daerah terpencil.
Di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, jembatan gantung yang selesai dibangun memungkinkan anak-anak mencapai sekolah hanya dalam waktu lima menit. Sebelumnya, mereka harus berjalan memutar hingga satu jam. Presiden juga berdialog dengan siswa asal Nias Selatan yang sebelumnya viral karena harus menyeberangi sungai untuk pergi ke sekolah. Kini, mereka dapat bersekolah dengan lebih aman.
“Anak-anak kita adalah kekayaan kita yang paling berharga. Jembatan-jembatan ini akan membantu kehidupan masyarakat dan meringankan beban hidup mereka,” kata Prabowo.
Meskipun mendapat kritik, Prabowo menegaskan pemerintah tidak akan berhenti membangun. Ia meminta jajarannya untuk terus bekerja demi kepentingan rakyat.
“Kita harus jadi satu, kita adalah satu bangsa Indonesia. Tidak boleh ada yang merasa lebih dari yang lain,” pesan Prabowo kepada para pejabat yang hadir.
Baca Juga: OPINI - Arabisme yang Menyamar sebagai Keimanan
Artikel Terkait
Tiket Pesawat Resmi Naik Maksimal 13 Persen, Pemerintah Hapus Bea Masuk Suku Cadang
Menteri PKP: Banyak Lahan KAI Dikuasai Pihak Lain, Butuh 'Nyali' Ambil Alih untuk Rakyat
Puskesmas Cisauk Gelar ORI Campak, Langkah Cegah Kejadian Luar Biasa di Kabupaten Tangerang
10 Penyakit Paling Mematikan di Dunia: Data WHO 2021 dan Ancaman bagi Indonesia
Rahasia Kesehatan Mental Tersembunyi di Piring Makan Anda
Kredit Perbankan Jabar Tembus Rp1.014 Triliun, OJK Pastikan Stabilitas Terjaga di Awal 2026
Menelisik ‘Ketidakistimewaan’ Bahasa Arab Antara Sakralitas dan Realitas Global
Jabar Resmi Teken Kerja Sama Pengolahan Sampah Jadi Listrik, Bandung Raya dan Bogor-Depok Prioritas
6 Kampus Pendidikan Terbaik di Indonesia 2026 Versi QS, UPI Melesat ke Peringkat 101-150 Dunia
OPINI - Arabisme yang Menyamar sebagai Keimanan