PROJABAR.COM - Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai menggarap proyek revitalisasi plaza depan Gedung Sate. Proyek ini menelan anggaran mencapai Rp15 miliar.
Baca Juga: Banjir Bandung Raya Meluas, 21.228 Jiwa Terdampak dan Satu Warga Masih Hilang
Proyek ini bertujuan mengintegrasikan kawasan Gedung Sate dengan Lapangan Gasibu. Integrasi itu diharapkan menciptakan satu kesatuan ruang publik sekaligus memperkuat fungsi simbolis pusat pemerintahan.
Langkah ini merupakan bagian dari visi Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Ia ingin menjadikan halaman depan Gedung Sate sebagai lokasi upacara kenegaraan di masa mendatang.
Berdasarkan pantauan di lapangan, sejumlah perubahan mulai terlihat sejak awal April 2026. Area taman hijau yang sebelumnya menjadi ciri khas Gedung Sate kini mulai dibongkar.
Beberapa perubahan yang terjadi antara lain taman hijau digunduli untuk membuka ruang lapangan. Selain itu, ubin dan batu alam plaza dibongkar serta tanaman dicabut untuk penataan ulang kawasan.
Di tengah proses revitalisasi, muncul pertanyaan terkait keberadaan Batu Prasasti Sapta Taruna. Prasasti itu menjadi simbol Hari Bakti Pekerjaan Umum.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat, Mas Adi Komar, memastikan bahwa prasasti tersebut tetap akan diperhatikan dalam penataan. “Penataan direncanakan dilaksanakan pada 8 April 2026 - 6 Agustus 2026. (Untuk prasasti) akan ada penataan,” kata Adi Komar.
Merujuk data dari Biro Umum Setda Provinsi Jawa Barat, proyek ini dijadwalkan berlangsung selama empat bulan. Revitalisasi mencakup integrasi plaza dengan Lapangan Gasibu, penataan koridor Jalan Diponegoro, serta pengembangan ruang terbuka publik berbasis budaya Jawa Barat.
Total luas kawasan yang akan ditata mencapai 14.642 meter persegi. Kawasan itu akan menjadi satu sumbu utama ruang publik di Kota Bandung.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat menilai bahwa selama ini Gedung Sate sebagai pusat pemerintahan kurang menonjol karena tertutup oleh bangunan tinggi di sekitar kawasan Gasibu. Dengan revitalisasi ini, Gedung Sate diharapkan kembali menjadi titik pusat (center point) yang merepresentasikan identitas Jawa Barat.
Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman, memastikan bahwa kebijakan tersebut telah melalui kajian teknokratis. Hal itu disampaikannya untuk menjawab berbagai pertanyaan publik terkait urgensi dan dampak proyek revitalisasi.
Baca Juga: Serapan Angrendah hingga Polemik Belanja Alat Makan, Badan Gizi Nasional Disorot
Artikel Terkait
Gubernur Dedi Mulyadi Siapkan Aturan Pernikahan Sederhana di Jawa Barat, Gen Z Tak Perlu Pesta Mewah
Dana Sitaan Rp11,4 Triliun Masuk Kas Negara: Bantu Redam Defisit atau Hanya Angin Lalu?
Prabowo Tiba di Moskow, Perkuat Kemitraan Strategis Indonesia-Rusia di Tengah Dinamika Global
Pasca Bupati Tulungagung Diciduk KPK, Plt Sekda Soeroto Pastikan Pelayanan Publik Tetap Normal
Banjir Bandung Selatan 13 April 2026: Ribuan Rumah Terendam, Akses Dayeuhkolot Lumpuh Total
Pagar Seng Pemisah Ruang Belajar, 456 Siswa SDN Bunisari Bandung Barat Jadi Korban Sengketa Lahan
Tahun 2025, Capaian Literasi Indonesia: Angka Melek Huruf 97,10 Persen tapi 75 Persen Siswa Belum Cakap Membaca
Menilik Belanja Badan Gizi Nasional 2025-2026: Dari Rp71 Triliun hingga Rencana Rp268 Triliun di Tengah Tantangan Serapan
Serapan Angrendah hingga Polemik Belanja Alat Makan, Badan Gizi Nasional Disorot
Banjir Bandung Raya Meluas, 21.228 Jiwa Terdampak dan Satu Warga Masih Hilang