PROJABAR.COM - Bencana banjir yang melanda wilayah Bandung Raya sejak akhir pekan lalu terus meluas. Hingga Selasa (14/4/2026), BPBD Kabupaten Bandung mencatat 21.228 jiwa terdampak akibat luapan tiga sungai besar di daerah tersebut.
Baca Juga: Serapan Angrendah hingga Polemik Belanja Alat Makan, Badan Gizi Nasional Disorot
Tiga sungai yang meluap dan menjadi penyebab utama bencana ini adalah Sungai Citarum, Sungai Cipalasari, dan Sungai Cigede. Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur sejak Jumat (10/4/2026) hingga Minggu (12/4/2026) memicu debit air ketiga sungai tersebut meningkat drastis.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Bandung, Beny Sonjaya, mengungkapkan tiga kecamatan terdampak paling parah. “Area yang parah terdampak banjir adalah Bojongsoang, Dayeuhkolot, dan Baleendah,” katanya, Senin (13/4/2026).
Ketinggian air di tiga kecamatan tersebut bervariasi. “Ketinggian air rata-rata 30 sentimeter sampai dengan 130 sentimeter (1,3 meter),” ujar Beny.
Kecamatan Dayeuhkolot menjadi wilayah dengan jumlah korban terbanyak. Di Desa Dayeuhkolot saja, tercatat 4.800 kepala keluarga atau 14.400 jiwa terdampak.
Selain banjir, angin kencang juga merusak ratusan rumah di sejumlah kecamatan. Kerusakan terjadi di Kecamatan Arjasari, Katapang, dan Cangkuang.
Sebanyak 99 unit rumah rusak di Desa Mangunjaya, 50 unit di Desa Batukarut, dan 20 unit di Desa Mekarjaya.“Sebagian besar kerusakan terjadi pada bagian atap rumah akibat diterjang angin atau tertimpa pohon tumbang,” jelas Beny.
Di sisi lain, tim SAR gabungan masih berupaya mencari satu warga yang dilaporkan hilang terseret arus di Jembatan Cikarees.Pemerintah Kabupaten Bandung telah menyiapkan anggaran Rp3 miliar untuk perbaikan rumah terdampak.
“Kita dapat data itu di 63 rumah, langsung kita perbaiki. Kemudian rumah yang mengalami kerusakan menengah ke atas diberikan bantuan kebencanaan dengan anggaran yang kita siapkan sebesar Rp3 miliar,” kata Bupati Bandung Dadang Supriatna.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat menilai bencana ini bukan sekadar peristiwa alam. “Bencana terjadi bukan sekadar faktor alam, melainkan dampak langsung dari rusaknya ekosistem Sungai,” kata Direktur Eksekutif Walhi Jabar Wahyudin, Senin (13/4/2026).
Walhi mendesak Pemkab Bandung melakukan audit tata ruang dan menghentikan aktivitas yang merusak fungsi lindung di hulu DAS Citarum.Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga diminta mengambil langkah konkret dalam pemulihan ekosistem DAS Citarum secara menyeluruh.
Baca Juga: Menilik Belanja Badan Gizi Nasional 2025-2026: Dari Rp71 Triliun hingga Rencana Rp268 Triliun di Tengah Tantangan Serapan
(Catatan verifikasi: Data jumlah korban dan ketinggian air diverifikasi dari pernyataan resmi BPBD Bandung. Klaim Walhi tentang kegagalan tata kelola ruang merupakan pendapat lembaga yang dikutip berdasarkan rilis pers mereka pada 13-14 April 2026.)
Artikel Terkait
Kabupaten Bogor Tembus 3 Besar Jawa Barat dan 4 Besar Regional Jawa Versi IDSD 2025 BRIN
Gubernur Dedi Mulyadi Siapkan Aturan Pernikahan Sederhana di Jawa Barat, Gen Z Tak Perlu Pesta Mewah
Dana Sitaan Rp11,4 Triliun Masuk Kas Negara: Bantu Redam Defisit atau Hanya Angin Lalu?
Prabowo Tiba di Moskow, Perkuat Kemitraan Strategis Indonesia-Rusia di Tengah Dinamika Global
Pasca Bupati Tulungagung Diciduk KPK, Plt Sekda Soeroto Pastikan Pelayanan Publik Tetap Normal
Banjir Bandung Selatan 13 April 2026: Ribuan Rumah Terendam, Akses Dayeuhkolot Lumpuh Total
Pagar Seng Pemisah Ruang Belajar, 456 Siswa SDN Bunisari Bandung Barat Jadi Korban Sengketa Lahan
Tahun 2025, Capaian Literasi Indonesia: Angka Melek Huruf 97,10 Persen tapi 75 Persen Siswa Belum Cakap Membaca
Menilik Belanja Badan Gizi Nasional 2025-2026: Dari Rp71 Triliun hingga Rencana Rp268 Triliun di Tengah Tantangan Serapan
Serapan Angrendah hingga Polemik Belanja Alat Makan, Badan Gizi Nasional Disorot