Respons Positif Iran, Pemerintah Godok Teknis Lintas Aman Kapal Pertamina di Selat Hormuz

photo author
- Minggu, 29 Maret 2026 | 22:06 WIB
Indonesia-Iran Negosiasi Kapal Tanker Pertamina Lewat Selat Hormuz (pixabay.com/ bryanhanson1956)
Indonesia-Iran Negosiasi Kapal Tanker Pertamina Lewat Selat Hormuz (pixabay.com/ bryanhanson1956)

PROJABAR.COM - Pemerintah Indonesia mengonfirmasi adanya respons positif dari Iran terkait upaya diplomasi untuk memastikan keselamatan dua kapal milik PT Pertamina (Persero) yang saat ini berada di kawasan Teluk Persia.
Baca Juga: BPS Rilis Data Kasus HIV/AIDS 2025: Jawa Timur Tertinggi, Disusul Jawa Barat

Dua kapal tanker tersebut adalah Pertamina Pride dan Gamsunoro. Mereka belum dapat melintasi Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang terdampak eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran sejak akhir Februari 2026.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Vahd Nabyl A. Mulachela, menyatakan bahwa pemerintah melalui Kedutaan Besar RI di Tehran terus berkomunikasi dengan otoritas Iran sejak awal situasi memanas.

"Dalam perkembangannya, telah terdapat tanggapan positif dari pihak Iran. Saat ini, hal tersebut tengah ditindaklanjuti oleh pihak-pihak terkait pada aspek teknis dan operasional," ujar Nabyl dalam keterangan resmi pada 29 Maret 2026.

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Juru Bicara ESDM, Dwi Anggia, menekankan bahwa keselamatan awak kapal menjadi prioritas utama di samping keamanan muatan energi.

"Kementerian ESDM terus berkomunikasi dan berkoordinasi secara intensif dengan Kementerian Luar Negeri untuk memastikan proses pelintasan kapal Indonesia di Selat Hormuz dapat berjalan aman dan lancar," tegas Anggia.

PT Pertamina International Shipping (PIS) selaku operator sedang merampungkan persiapan administratif dan teknis. Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyampaikan apresiasi atas dukungan penuh pemerintah.

"Prioritas kami tetap pada keselamatan seluruh awak kapal, serta keamanan kapal dan muatannya," imbuh Baron, seraya memohon dukungan doa dari masyarakat Indonesia.

Data Kementerian ESDM mencatat sepanjang tahun 2025, Pertamina mengimpor 135,33 juta barel minyak mentah. Sekitar 19 persen atau 25,36 juta barel di antaranya berasal dari Arab Saudi.

Sebagai langkah mitigasi, pemerintah mulai mendiversifikasi sumber impor minyak mentah dari kawasan di luar Timur Tengah. Arahan ini disampaikan langsung Presiden Prabowo Subianto kepada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.

Selain itu, Indonesia juga telah memiliki kerja sama jangka panjang dengan Singapura dan Malaysia untuk pasokan produk Bahan Bakar Minyak (BBM). Pasokan juga diamankan dari Afrika, Amerika Latin, Amerika Serikat, hingga Malaysia.

Berdasarkan pantauan data MarineTraffic, sekitar 1.900 kapal komersial sempat terkandas di sekitar Selat Hormuz akibat ketegangan militer. Namun, Iran mulai mengizinkan kapal dari negara-negara sahabat, termasuk Indonesia, untuk melintas.
Baca Juga: Obesitas Bukan Sekadar Gemuk, Para Ahli Minta Dipahami sebagai Penyakit Kronis

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Muhammad Cikal Bintang Sayyid Arrazy

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X