PROJABAR.COM - Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kehormatan kepada Kaisar Jepang Naruhito di Istana Kekaisaran Jepang, Tokyo, pada Senin, 30 Maret 2026. Kunjungan ini menjadi bagian penting dalam rangkaian lawatan kenegaraan Presiden ke Negeri Sakura untuk mempererat hubungan persahabatan kedua negara.
Baca Juga: IPM Jabar 2025 Tembus 75,90; Peningkatan Tertinggi se-Indonesia
Pertemuan yang berlangsung hangat itu diawali dengan sambutan langsung dari Kaisar Naruhito saat Presiden Prabowo tiba di kompleks istana. Kedua pemimpin negara kemudian menuju Ruang Take-no-ma untuk mengadakan pertemuan empat mata yang berlangsung sekitar 45 menit hingga dua jam, dilanjutkan dengan jamuan santap siang kenegaraan.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengungkapkan, dalam pertemuan tersebut Presiden Prabowo dan Kaisar Naruhito membahas sejumlah isu strategis yang menjadi kepentingan bersama kedua negara. "Presiden Prabowo dan Kaisar Naruhito membahas sejumlah isu strategis yang menjadi kepentingan bersama kedua negara dibidang investasi, energi hingga pelestarian lingkungan hidup," ujar Teddy saat dikonfirmasi ANTARA di Jakarta, Senin (30/3/2026).
Suasana pertemuan berlangsung dalam keakraban yang mendalam, di mana di sela-sela pembahasan formal, kedua pemimpin juga saling bertukar cerita ringan. Kehangatan ini menjadi sinyal kuat bahwa kemitraan Indonesia-Jepang terus bergerak maju, semakin erat, dan semakin strategis di masa depan.
Usai pertemuan dengan Kaisar Naruhito, Presiden Prabowo juga melakukan pertemuan dengan Putra Mahkota Jepang Fumihito, yang merupakan adik dari Kaisar. Rangkaian pertemuan ini semakin memperkuat hubungan persahabatan antara Indonesia dan Jepang hingga ke tingkat keluarga kekaisaran.
Selanjutnya, Presiden Prabowo bersama Kaisar Naruhito dan Putra Mahkota Fumihito menghadiri jamuan santap siang kenegaraan di Rensui North, Imperial Palace. Dalam jamuan tersebut, Presiden Prabowo didampingi oleh putranya, Ragowo Hediprasetyo atau Didit Hediprasetyo, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Di sela jamuan, Presiden Prabowo sempat mengungkapkan kekagumannya terhadap keindahan taman Istana Kekaisaran Jepang. Suasana yang cair dan bersahabat ini semakin mencerminkan kedekatan personal antara kedua pemimpin di tengah agenda formal kenegaraan.
Presiden Prabowo dalam kesempatan itu juga menyampaikan keterbukaan Indonesia terhadap partisipasi aktif Jepang. "Kami sangat terbuka terhadap partisipasi aktif Jepang, teknologi Jepang, pengalaman Jepang, metode Jepang. Kami percaya bahwa dikombinasikan dengan sumber daya kami, pertumbuhan kami, dan skala kami, hubungan ini dapat saling menguntungkan bagi kedua belah pihak," demikian pernyataan Presiden sebagaimana dikutip dalam siaran pers.
Hadir mendampingi Presiden dalam kunjungan ini Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Luar Negeri Sugiono. Kehadiran para pejabat tinggi ini menegaskan komitmen pemerintah Indonesia untuk memperkuat hubungan bilateral dengan Jepang di berbagai sektor.
Di luar pertemuan dengan keluarga Kekaisaran, Presiden Prabowo juga diagendakan menghadiri Forum Bisnis Jepang-Indonesia. Dalam forum tersebut, tercatat sepuluh kesepakatan kerja sama business-to-business dengan nilai mencapai 22,6 miliar dolar AS berhasil disepakati.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Angga Raka Prabowo menyampaikan, kesepakatan tersebut menjadi langkah strategis dalam memperkuat hubungan ekonomi Indonesia dan Jepang. "Dalam forum tersebut, sebanyak sepuluh kesepakatan kerja sama business-to-business dengan nilai mencapai USD 22,6 miliar berhasil disepakati," kata Angga saat dihubungi di Jakarta pada Senin (30/3/2026).
Kerja sama ekonomi ini disebutnya membuka peluang kolaborasi yang lebih luas di berbagai sektor prioritas, termasuk industri, energi, dan pengembangan teknologi. Hal ini sejalan dengan pembahasan investasi dan energi yang telah dilakukan Presiden Prabowo bersama Kaisar Naruhito dalam pertemuan tertutup sebelumnya.
Kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo ke Jepang ini menjadi penegasan kuat bahwa hubungan Indonesia dan Jepang tidak hanya dibangun di atas kepentingan strategis, tetapi juga diikat oleh rasa saling hormat, kepercayaan, dan persahabatan yang semakin kokoh dari waktu ke waktu. Di tengah situasi global yang tidak menentu, jalinan diplomasi yang terajut antara dua pemimpin negara ini dinilai penting guna menghadapi dinamika geopolitik dunia.
Baca Juga: Hadapi Perang Timur Tengah dan El Nino, Pemerintah Genjot Penghematan Energi dan Air
Artikel Terkait
SNBT 2026 Dibuka, UNJA Tawarkan 3.797 Kuota di 71 Program Studi
Info Lalulintas dan Cuaca Bandung Hari Ini: Hindari Beberapa Titik Ini Agar Perjalanan Lancar
Dua Tahun Larangan Ponsel di Sekolah Belanda, Tiga Perempat Sekolah Laporkan Siswa Lebih Fokus
Strategi Cerdas Hindari Macet Bandung 30 Maret 2026: Intip Rute Alternatif di Hari Pertama Kerja
Jadi WNI Lewat Naturalisasi: Ini Syarat, Biaya, dan Tantangan yang Harus Dilewati
Dilema Gaji PPPK Majalengka: Pemkab Cari Solusi Hadapi Batas Maksimal Belanja Pegawai 2026
Tragis di Bekasi: Rekan Kerja Jadi Pelaku Mutiliasi, Korban Disimpan dalam Freezer
Mengatasi ‘Kegilaan’ WNI: Antara Jerat Hukum Kewarganegaraan dan Beban Ekonomi Kesehatan Jiwa
Hadapi Perang Timur Tengah dan El Nino, Pemerintah Genjot Penghematan Energi dan Air
IPM Jabar 2025 Tembus 75,90; Peningkatan Tertinggi se-Indonesia