Menkes Bantah Keras Isu Penculikan Bayi di RSHS Bandung, Polisi Tetap Selidiki Kasus Nyaris Tertukar

photo author
- Rabu, 15 April 2026 | 15:29 WIB
Menkes Budi Gunadi Sadikin memaparkan hasil skrining kesehatan mental anak melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kemenkes/instagram@bg.sadikin
Menkes Budi Gunadi Sadikin memaparkan hasil skrining kesehatan mental anak melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kemenkes/[email protected]

PROJABAR.COM - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin secara tegas membantah isu penculikan bayi di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Bantahan ini disampaikan di tengah hebohnya kasus bayi yang nyaris tertukar usai menjalani perawatan di rumah sakit rujukan puncak Jawa Barat tersebut.
Baca Juga: Detik-Detik Siswi SMP di Bandung Barat Dibawa Kabur, Pelaku Ternyata Anak di Bawah Umur yang Saling Kenal

“Nggak, nggak ada. Coba tanya ke RSHS,” ujar Menkes Budi singkat saat ditemui di Jakarta Selatan pada Selasa (14/4/2026). Pernyataan ini menjadi klarifikasi langsung dari pejabat tertinggi di jajaran kesehatan setelah isu penculikan merebak luas di masyarakat.

Apa yang sebenarnya terjadi hingga muncul isu penculikan, dan bagaimana kronologi kasus yang membuat heboh warga Bandung ini? Peristiwa ini bermula saat seorang ibu muda bernama Nina Saleha (27), warga Kabupaten Bandung, hampir kehilangan bayinya di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU).

Kejadian tersebut berlangsung pada Rabu (8/4/2026) sekitar pukul 09.00 WIB. Saat itu, Nina dan suaminya sempat meninggalkan ruangan untuk makan. Ketika kembali, ia kaget karena bayinya tidak ada di inkubator.

Ia kemudian melihat seorang perempuan yang sebelumnya sempat berbincang dengannya sedang menggendong bayinya. Dengan sigap, Nina menghentikan perempuan tersebut dan menyelamatkan bayinya.

Mengapa peristiwa ini bisa terjadi? Pihak RSHS Bandung dan Kementerian Kesehatan sebelumnya menyatakan bahwa insiden ini murni kelalaian perawat. Namun, pihak keluarga menilai ada kejanggalan karena perawat yang terlibat adalah tenaga medis senior dengan pengalaman lebih dari 20 tahun.

Kuasa hukum Nina, Mira Widyawati, bahkan menduga unsur percobaan penculikan terpenuhi. “Ada niat, ada tindakan, dan kejadian itu gagal karena klien kami langsung bersuara,” tegas Mira pada Senin (13/4/2026).

Bagaimana perkembangan kasus ini setelahnya? Babak baru terus bergulir. Nina Saleha, didampingi kuasa hukumnya, resmi melayangkan surat somasi kepada RSHS Bandung pada Senin (13/4/2026). Mereka memberikan tenggat waktu tiga hari kepada pihak rumah sakit untuk merespon.

Sementara itu, jajaran Satreskrim Polrestabes Bandung telah bergerak proaktif. Kasat Reskrim AKBP Anton mengonfirmasi pihaknya sudah mendatangi RSHS Bandung untuk memeriksa standar operasional prosedur (SOP) perawatan bayi.

“Kami tetap lakukan penyelidikan,” kata AKBP Anton, Selasa (14/4/2026), meskipun hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan resmi dari Nina Saleha. Penyelidikan ini akan mendalami apakah peristiwa tersebut mengandung unsur pidana atau hanya pelanggaran SOP.

Direktur Utama RSHS, Rachim Dinata Marsidi, sebelumnya telah memberikan keterangan terkait kejadian ini. Meski sudah ada permohonan maaf, Nina dan tim kuasa hukum menyatakan belum berdamai dan mengancam akan melaporkan kasus ini ke Bareskrim atau Polda Jabar jika somasi mereka tidak direspons dalam waktu yang ditentukan.
Baca Juga: Evaluasi MBG Cikalongwetan Diperkuat, Monitoring Intensif Jadi Kunci Perbaikan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Muhammad Cikal Bintang Sayyid Arrazy

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Enam Tersangka Kasus AKBP Didik Dibawa ke Bareskrim

Sabtu, 28 Februari 2026 | 00:08 WIB
X