PROJABAR.COM - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin secara tegas membantah isu penculikan bayi di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Bantahan ini disampaikan di tengah hebohnya kasus bayi yang nyaris tertukar usai menjalani perawatan di rumah sakit rujukan puncak Jawa Barat tersebut.
Baca Juga: Detik-Detik Siswi SMP di Bandung Barat Dibawa Kabur, Pelaku Ternyata Anak di Bawah Umur yang Saling Kenal
“Nggak, nggak ada. Coba tanya ke RSHS,” ujar Menkes Budi singkat saat ditemui di Jakarta Selatan pada Selasa (14/4/2026). Pernyataan ini menjadi klarifikasi langsung dari pejabat tertinggi di jajaran kesehatan setelah isu penculikan merebak luas di masyarakat.
Apa yang sebenarnya terjadi hingga muncul isu penculikan, dan bagaimana kronologi kasus yang membuat heboh warga Bandung ini? Peristiwa ini bermula saat seorang ibu muda bernama Nina Saleha (27), warga Kabupaten Bandung, hampir kehilangan bayinya di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU).
Kejadian tersebut berlangsung pada Rabu (8/4/2026) sekitar pukul 09.00 WIB. Saat itu, Nina dan suaminya sempat meninggalkan ruangan untuk makan. Ketika kembali, ia kaget karena bayinya tidak ada di inkubator.
Ia kemudian melihat seorang perempuan yang sebelumnya sempat berbincang dengannya sedang menggendong bayinya. Dengan sigap, Nina menghentikan perempuan tersebut dan menyelamatkan bayinya.
Mengapa peristiwa ini bisa terjadi? Pihak RSHS Bandung dan Kementerian Kesehatan sebelumnya menyatakan bahwa insiden ini murni kelalaian perawat. Namun, pihak keluarga menilai ada kejanggalan karena perawat yang terlibat adalah tenaga medis senior dengan pengalaman lebih dari 20 tahun.
Kuasa hukum Nina, Mira Widyawati, bahkan menduga unsur percobaan penculikan terpenuhi. “Ada niat, ada tindakan, dan kejadian itu gagal karena klien kami langsung bersuara,” tegas Mira pada Senin (13/4/2026).
Bagaimana perkembangan kasus ini setelahnya? Babak baru terus bergulir. Nina Saleha, didampingi kuasa hukumnya, resmi melayangkan surat somasi kepada RSHS Bandung pada Senin (13/4/2026). Mereka memberikan tenggat waktu tiga hari kepada pihak rumah sakit untuk merespon.
Sementara itu, jajaran Satreskrim Polrestabes Bandung telah bergerak proaktif. Kasat Reskrim AKBP Anton mengonfirmasi pihaknya sudah mendatangi RSHS Bandung untuk memeriksa standar operasional prosedur (SOP) perawatan bayi.
“Kami tetap lakukan penyelidikan,” kata AKBP Anton, Selasa (14/4/2026), meskipun hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan resmi dari Nina Saleha. Penyelidikan ini akan mendalami apakah peristiwa tersebut mengandung unsur pidana atau hanya pelanggaran SOP.
Direktur Utama RSHS, Rachim Dinata Marsidi, sebelumnya telah memberikan keterangan terkait kejadian ini. Meski sudah ada permohonan maaf, Nina dan tim kuasa hukum menyatakan belum berdamai dan mengancam akan melaporkan kasus ini ke Bareskrim atau Polda Jabar jika somasi mereka tidak direspons dalam waktu yang ditentukan.
Baca Juga: Evaluasi MBG Cikalongwetan Diperkuat, Monitoring Intensif Jadi Kunci Perbaikan
Artikel Terkait
Kesal Ditagih Utang, Pria Brebes Mutilasi Tetangga dan Masukkan Jasad ke Koper
Viral ART di Ujungberung Tampar Balita hingga Berdarah, Polisi Turun Tangan Meski Tak Dilapori
Fandi Ramadhan Akui Tidak Tahu Muatan Kapalnya Berisi Sabu Saat Baru Menjalankan Pekerjaannya Selama 3 Hari
Buron Kasus Narkoba Eks Kapolres Bima, Ko Erwin Ditangkap Saat Hendak Kabot ke Malaysia
Enam Tersangka Kasus AKBP Didik Dibawa ke Bareskrim
Motif Cinta Segitia di Balik Pembunuhan Keji Lansia WN Singapura, Jenazah Dicor dan Dibuang ke Sungai
Ngeri! Mayat Korban Mutilasi Ditemukan dalam Freezer Kios Ayam Goreng di Bekasi, Dua Pelaku Diamankan
Tragis di Bekasi: Rekan Kerja Jadi Pelaku Mutiliasi, Korban Disimpan dalam Freezer
Pasca Bupati Tulungagung Diciduk KPK, Plt Sekda Soeroto Pastikan Pelayanan Publik Tetap Normal
Detik-Detik Siswi SMP di Bandung Barat Dibawa Kabur, Pelaku Ternyata Anak di Bawah Umur yang Saling Kenal