Berbeda dengan Ujian Nasional (UN) yang dahulu bersifat wajib, partisipasi dalam TKA adalah opsional.
Keputusan untuk mengikuti tes ini sepenuhnya berada di tangan murid dan orang tua. "TKA tidak diwajibkan agar murid yang merasa siap saja yang mengikuti, sementara yang tidak siap tidak perlu merasa tertekan," sebagaimana tertuang dalam laman resmi Pusmendik. Hasil TKA juga tidak menentukan kelulusan dari satuan pendidikan.
Komposisi Ujian dan Mata Pelajaran
Pelaksanaan TKA untuk jenjang SMA/SMK/sederajat berlangsung selama dua hari . Pada hari pertama, peserta akan mengerjakan tiga mata pelajaran wajib, yaitu Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris dengan total waktu 150 menit.
Hari kedua diperuntukkan bagi dua mata pelajaran pilihan yang telah dipilih peserta saat pendaftaran dengan total waktu 130 menit.
Pilihan mata pelajaran ini mencakup berbagai disiplin ilmu, seperti Matematika Lanjut, Fisika, Kimia, Biologi, Ekonomi, Geografi, Sejarah, serta beberapa bahasa asing seperti Bahasa Jepang, Mandarin, Prancis, dan Jerman.
Khusus untuk peserta SMK, terdapat pilihan mata uji Projek Kreatif dan Kewirausahaan.
Baca Juga: Relevansi Pendidikan Nabi Muhammad SAW: Solusi Holistik atas Krisis Pendidikan Abad ke-21
Antusiasme dan Persiapan dari Berbagai Pihak
Menjelang pelaksanaan TKA, berbagai sekolah menunjukkan antusiasmenya dengan mempersiapkan siswa mereka seoptimal mungkin.
Sejumlah sekolah swasta, seperti yang berada di bawah Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al Azhar dan Perkumpulan Strada, secara proaktif mewajibkan atau mendorong seluruh siswanya untuk mengikuti TKA.
"Kami memastikan secara bertahap semua murid ikut TKA. Meskipun nggak akan ke SMA negeri, atau mau ke PTN, ini jadi alternatif baik," ujar Wakil Direktur Pendidikan Perkumpulan Strada, Maria Imaculata Rini Agustin.
Persiapan yang dilakukan tidak hanya berupa pendalaman materi, tetapi juga workshop bagi guru dan sosialisasi kepada orang tua untuk memahami dampak positif TKA.
Dengan ditutupnya pendaftaran, fokus kini beralih pada tahap simulasi dan gladi bersih. Melalui simulasi yang dijadwalkan pada 6-9 Oktober mendatang, peserta diharapkan dapat mengenal bentuk soal, sistem antarmuka, dan alur pengerjaan ujian secara daring.
Semua tahapan ini dirancang untuk memastikan pelaksanaan TKA berjalan lancar dan menghasilkan data yang kredibel bagi peta mutu pendidikan Indonesia.
Baca Juga: 5 Metode Pedagogi Nabi Muhammad SAW yang Terbukti Efektif dan Relevan dengan Neurosains
Artikel Terkait
Prodi Ekonomi Syariah: Apa yang Dipelajari, Gelar, dan Peluang Kerja di Jawa Barat
Membongkar Mitos Minat Baca 0,001 Persen: Inilah Paradoks Literasi Indonesia yang Sebenarnya
"Kesenjangan Digital dan Literasi Inklusif: Sokola Institute Contoh Solusi bagi Kelompok Rentan Indonesia"
Mengurai Paradoks Literasi Indonesia: Dari Melek Aksara 95% Menuju Keterampilan Kritis di Era Digital
Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam: Kreatif, Islami, dan Penuh Peluang
Relevansi Pendidikan Nabi Muhammad SAW: Solusi Holistik atas Krisis Pendidikan Abad ke-21
5 Metode Pedagogi Nabi Muhammad SAW yang Terbukti Efektif dan Relevan dengan Neurosains
Nabi Muhammad SAW sebagai Pelopor Pendidikan Inklusif: Melampaui Batas Gender, Disabilitas, dan Status Sosial
Pengembangan Soft Skill 2025: Strategi Efektif Asah Empati, Ketahanan & Komunikasi
Kabar Baik! BPJS Ketenagakerjaan Gianyar Kucurkan Beasiswa Rp 1,5 Miliar: 315 Anak Pekerja Terjamin Pendidikannya