"Kesenjangan Digital dan Literasi Inklusif: Sokola Institute Contoh Solusi bagi Kelompok Rentan Indonesia"

photo author
- Kamis, 25 September 2025 | 06:15 WIB
Logo UNESCO 2021 (Wikipedia)
Logo UNESCO 2021 (Wikipedia)

PROJABAR.COM - Di balik optimisme lompatan literasi digital Indonesia, terdapat ancaman marginalisasi besar-besaran terhadap kelompok-kelompok rentan yang justru paling membutuhkan. Kelompok yang dulu sulit dijangkau program baca-tulis dasar seperti lansia, masyarakat adat di daerah terpencil, dan penyandang disabilitas kini menghadapi bentuk "buta aksara" baru di era digital. Tantangannya bukan lagi sekadar membaca buku, tetapi mengakses dan memahami arus informasi utama yang telah beralih ke dunia daring.

Siapa saja kelompok "hard core" yang paling berisiko tertinggal? Sebuah laporan UNESCO tahun 2005 yang masih relevan mengidentifikasi mereka berdasarkan demografi, geografi, dan kondisi spesifik. Kelompok ini mencakup populasi paruh baya dan lanjut usia (45 tahun ke atas), masyarakat di daerah terpencil dan tersebar, penyandang disabilitas, serta individu dari latar belakang linguistik minoritas yang tidak menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu.

Baca Juga: Wamenpar Ni Luh Puspa Tinjau Kesiapan Geopark Maros-Pangkep Jelang Revalidasi UNESCO 2026

Mengapa kelompok ini sangat rentan di era digital? Keterpencilan geografis, usia, disabilitas, dan hambatan bahasa yang dulu menghambat akses mereka ke program literasi tradisional, kini direplikasi di ruang digital. Mereka menghadapi ketiadaan akses internet yang andal, biaya data yang mahal, kurangnya keterampilan digital dasar, dan minimnya konten berbahasa daerah yang relevan. Kondisi ini menciptakan kesenjangan digital yang dalam.

Di mana contoh nyata upaya inklusif menjangkau mereka? Keberhasilan Institut Sokola dalam menerapkan pendidikan literasi etnografis bagi masyarakat adat menjadi contoh brilian. Program yang meraih UNESCO Confucius Prize for Literacy 2024 ini tidak menerapkan kurikulum satu untuk semua. Sebaliknya, jadwal belajar disesuaikan dengan ritme kehidupan komunitas, seperti berburu dan bertani. Metode membacanya memadangkan bahasa ibu dengan fonetik lokal, menciptakan pengalaman belajar yang personal dan efektif.

Butet Manurung as representative of Sokola Institute, received the award in Cameroon
Butet Manurung as representative of Sokola Institute, received the award in Cameroon (https://www.sokola.org/)

Kapan transformasi dari literasi dasar ke digital terjadi dalam program mereka? Sokola secara cerdas mengintegrasikan alat digital sebagai pelengkap, bukan pengganti. Siswa belajar menggunakan teknologi untuk mendokumentasikan pengetahuan lokal dari para tetua dan membagikannya via media sosial. Pendekatan ini memberdayakan komunitas untuk melestarikan budaya sekaligus terhubung dengan dunia luar.

Baca Juga: Pentingnya Literasi Digital bagi Siswa Sekolah di Era Teknologi

Bagaimana strategi ke depan untuk menjangkau mereka? Laporan tersebut merekomendasikan pendekatan ganda. Pertama, program literasi dasar yang ditargetkan harus terus berjalan bagi kelompok spesifik ini. Kedua, diperlukan pengembangan kerangka kerja yang dapat diadaptasi oleh organisasi lokal lainnya, seperti toolkit berprinsip etnografis dari model Sokola, alih-alih mengejar penskalaan massal yang berpotensi mengabaikan konteks lokal.

Dengan demikian, masa depan literasi Indonesia tidak hanya diukur oleh tingginya angka melek aksara atau kecakapan digital anak muda perkotaan, tetapi juga oleh kemampuan nation dalam membawa seluruh lapisan masyarakat, termasuk yang paling terpinggirkan, untuk melek informasi dan berpartisipasi secara bermakna di abad ke-21.

Baca Juga: Data Terbaru UNESCO Sebut Indonesia Peringkat 6 di ASEAN untuk Kemampuan Membaca, Tapi Masih Kalah dari Negara Tetangga?

Sumber Data:

(mcbsa)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Muhammad Cikal Bintang Sayyid Arrazy

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X