PROJABAR.COM - Di balik optimisme lompatan literasi digital Indonesia, terdapat ancaman marginalisasi besar-besaran terhadap kelompok-kelompok rentan yang justru paling membutuhkan. Kelompok yang dulu sulit dijangkau program baca-tulis dasar seperti lansia, masyarakat adat di daerah terpencil, dan penyandang disabilitas kini menghadapi bentuk "buta aksara" baru di era digital. Tantangannya bukan lagi sekadar membaca buku, tetapi mengakses dan memahami arus informasi utama yang telah beralih ke dunia daring.
Siapa saja kelompok "hard core" yang paling berisiko tertinggal? Sebuah laporan UNESCO tahun 2005 yang masih relevan mengidentifikasi mereka berdasarkan demografi, geografi, dan kondisi spesifik. Kelompok ini mencakup populasi paruh baya dan lanjut usia (45 tahun ke atas), masyarakat di daerah terpencil dan tersebar, penyandang disabilitas, serta individu dari latar belakang linguistik minoritas yang tidak menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu.
Baca Juga: Wamenpar Ni Luh Puspa Tinjau Kesiapan Geopark Maros-Pangkep Jelang Revalidasi UNESCO 2026
Mengapa kelompok ini sangat rentan di era digital? Keterpencilan geografis, usia, disabilitas, dan hambatan bahasa yang dulu menghambat akses mereka ke program literasi tradisional, kini direplikasi di ruang digital. Mereka menghadapi ketiadaan akses internet yang andal, biaya data yang mahal, kurangnya keterampilan digital dasar, dan minimnya konten berbahasa daerah yang relevan. Kondisi ini menciptakan kesenjangan digital yang dalam.
Di mana contoh nyata upaya inklusif menjangkau mereka? Keberhasilan Institut Sokola dalam menerapkan pendidikan literasi etnografis bagi masyarakat adat menjadi contoh brilian. Program yang meraih UNESCO Confucius Prize for Literacy 2024 ini tidak menerapkan kurikulum satu untuk semua. Sebaliknya, jadwal belajar disesuaikan dengan ritme kehidupan komunitas, seperti berburu dan bertani. Metode membacanya memadangkan bahasa ibu dengan fonetik lokal, menciptakan pengalaman belajar yang personal dan efektif.
Kapan transformasi dari literasi dasar ke digital terjadi dalam program mereka? Sokola secara cerdas mengintegrasikan alat digital sebagai pelengkap, bukan pengganti. Siswa belajar menggunakan teknologi untuk mendokumentasikan pengetahuan lokal dari para tetua dan membagikannya via media sosial. Pendekatan ini memberdayakan komunitas untuk melestarikan budaya sekaligus terhubung dengan dunia luar.
Baca Juga: Pentingnya Literasi Digital bagi Siswa Sekolah di Era Teknologi
Bagaimana strategi ke depan untuk menjangkau mereka? Laporan tersebut merekomendasikan pendekatan ganda. Pertama, program literasi dasar yang ditargetkan harus terus berjalan bagi kelompok spesifik ini. Kedua, diperlukan pengembangan kerangka kerja yang dapat diadaptasi oleh organisasi lokal lainnya, seperti toolkit berprinsip etnografis dari model Sokola, alih-alih mengejar penskalaan massal yang berpotensi mengabaikan konteks lokal.
Dengan demikian, masa depan literasi Indonesia tidak hanya diukur oleh tingginya angka melek aksara atau kecakapan digital anak muda perkotaan, tetapi juga oleh kemampuan nation dalam membawa seluruh lapisan masyarakat, termasuk yang paling terpinggirkan, untuk melek informasi dan berpartisipasi secara bermakna di abad ke-21.
Sumber Data:
-
Identifikasi kelompok "hard core" (lansia, daerah terpencil, disabilitas, minoritas linguistik): Laporan UNESCO 2005, Increasing literacy in Indonesia, https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000146011
-
Penghargaan untuk Institut Sokola dan metodologinya: UNESCO, https://www.unesco.org/en/articles/indonesian-ethnographic-programme-awarded-2024-unesco-confucius-prize-literacy
(mcbsa)
Artikel Terkait
Data Terbaru UNESCO Sebut Indonesia Peringkat 6 di ASEAN untuk Kemampuan Membaca, Tapi Masih Kalah dari Negara Tetangga?
Indeks Literasi Jawa Barat 2025 : Membaik atau Memburuk?
Literasi Digital: Mengapa Petani Jawa Barat Perlu Menguasai Teknologi
PPN Buku di Indonesia, Kebijakan Fiskal untuk Memajukan Literasi
Strategi Belajar dan Literasi Demokrasi di Tengah Gejolak Sosial
Pentingnya Literasi Digital bagi Siswa Sekolah di Era Teknologi
Tirai Digital: Literasi Digital sebagai Benteng Melawan Hoax dan Penipuan Online
Jawa Barat Punya! Inilah 5 Wisata Literasi Keren untuk Pecinta Buku & Sejarah
Peluang Emas! Komdigi Buka Lowongan Kerja Pandu Literasi Digital Dibuka, Lulusan S1 Usia 65 Tahun Boleh Daftar
Nia Purnakia Dorong Jawa Barat jadi Pelopor Literasi Internasional di Hari Literasi Internasional 08 September 2025
Peluang Karir di Bidang Literasi Digital: Jadi Pandu Literasi Digital 2025, Ini Cara Daftarnya!
Wamenpar Ni Luh Puspa Tinjau Kesiapan Geopark Maros-Pangkep Jelang Revalidasi UNESCO 2026