PROJABAR.COM - Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) secara strategis telah menggeser fokus program literasinya di Indonesia. Dari sekadar menuntaskan kemampuan baca-tulis dasar, lembaga internasional ini kini berperan sebagai katalisator untuk membangun keterampilan literasi kritis dan digital di tengah masyarakat. Pergeseran ini merupakan respons terhadap lanskap informasi digital yang kompleks dan paradoks literasi yang unik di Indonesia.
Apa yang dimaksud dengan paradoks literasi Indonesia? Data Bank Dunia dan UNESCO Institute for Statistics (UIS) konsisten menunjukkan tingkat melek aksara dewasa Indonesia yang sangat tinggi, yakni melampaui 95% pada 2018. Angka ini mencerminkan keberhasilan monumental pemberantasan buta aksara. Namun, di sisi lain, sebuah statistik yang sering dikutip menyebut minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%, atau diartikan hanya 1 dari 1.000 orang yang rajin membaca. Statistik terakhir ini, yang kerap dikaitkan dengan survei UNESCO sekitar 2012, telah menjadi narasi krisis yang viral.
Mengapa kedua data ini tidak bertentangan? Keduanya sebenarnya mengukur dua hal yang berbeda. Tingkat melek aksara mengukur keterampilan dasar (ability to read), sementara statistik minat baca mengukur praktik budaya (practice of reading). Tantangan sebenarnya bukan lagi pada kemampuan membaca, tetapi pada menciptakan ekosistem yang mendukung kebiasaan membaca dan literasi fungsional.
Siapa yang menjadi sasaran program UNESCO kini? Intervensi terkini difokuskan pada pendidik dan generasi muda. Melalui kemitraan dengan organisasi masyarakat sipil seperti MAFINDO (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia), UNESCO menyelenggarakan pelatihan Literasi Media dan Informasi (LMI) bagi guru-guru SMP dan SMA. Pelatihan ini membekali guru dengan kemampuan mengidentifikasi disinformasi, memahami privasi data, dan etika penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) untuk pendidikan.
Kapan pergeseran strategis ini terjadi? Analisis laporan menunjukkan evolusi terjadi dalam beberapa tahun terakhir, seiring dengan masifnya disruptsi digital dan lompatan penggunaan media sosial serta AI di Indonesia. Sebuah survei UNESCO 2024 mencatat, 80% anak muda Indonesia telah aktif menggunakan AI untuk mendukung pendidikan.
Di mana implementasi program dilakukan? Program LMI awal difokuskan di wilayah Jabodetabek. Sementara itu, pendekatan lain dilakukan dengan mengakui dan mengamplifikasi model literasi akar rumput yang kontekstual, seperti program pendidikan etnografis Institut Sokola untuk masyarakat adat, yang meraih UNESCO Confucius Prize for Literacy pada 2024.
Bagaimana dampak strategi baru ini? Dampak kuantitatif langsung mungkin terbatas pada jumlah peserta pelatihan. Namun, dampak kualitatifnya signifikan, berupa pengenalan konsep literasi abad ke-21 ke dalam wacana pendidikan nasional, penguatan kapasitas lokal, dan fasilitasi kemitraan strategis antara organisasi masyarakat sipil dan pemerintah. Keberlanjutan dijaga melalui integrasi kompetensi LMI ke dalam Kurikulum Merdeka dan model pemberdayaan komunitas.
Dengan demikian, peran UNESCO di Indonesia kini lebih sebagai fasilitator strategis dan penguat inovasi lokal, menjawab tantangan literasi yang lebih kompleks di era digital.
unesoBaca Juga: Data Terbaru UNESCO Sebut Indonesia Peringkat 6 di ASEAN untuk Kemampuan Membaca, Tapi Masih Kalah dari Negara Tetangga?
Sumber Data:
-
Tingkat melek aksara dewasa Indonesia >95% (2018): World Bank Data, https://data.worldbank.org/indicator/SE.ADT.LITR.ZS?locations=ID
-
Statistik minat baca 0,001% yang dikaitkan dengan UNESCO: Dikutip dari berbagai media nasional.
-
Survei UNESCO 2024 tentang penggunaan AI oleh pemuda: UNESCO and MAFINDO Train 25 Indonesian Junior High Teachers..., https://completeartraining.com/news/unesco-and-mafindo-train-25-indonesian-junior-high-teachers/
Artikel Terkait
Indeks Literasi Jawa Barat 2025 : Membaik atau Memburuk?
Literasi Digital: Mengapa Petani Jawa Barat Perlu Menguasai Teknologi
PPN Buku di Indonesia, Kebijakan Fiskal untuk Memajukan Literasi
Strategi Belajar dan Literasi Demokrasi di Tengah Gejolak Sosial
Pentingnya Literasi Digital bagi Siswa Sekolah di Era Teknologi
Tirai Digital: Literasi Digital sebagai Benteng Melawan Hoax dan Penipuan Online
Jawa Barat Punya! Inilah 5 Wisata Literasi Keren untuk Pecinta Buku & Sejarah
Peluang Emas! Komdigi Buka Lowongan Kerja Pandu Literasi Digital Dibuka, Lulusan S1 Usia 65 Tahun Boleh Daftar
Nia Purnakia Dorong Jawa Barat jadi Pelopor Literasi Internasional di Hari Literasi Internasional 08 September 2025
Peluang Karir di Bidang Literasi Digital: Jadi Pandu Literasi Digital 2025, Ini Cara Daftarnya!