Membongkar Mitos Minat Baca 0,001 Persen: Inilah Paradoks Literasi Indonesia yang Sebenarnya

photo author
- Kamis, 25 September 2025 | 06:00 WIB
Flag of the United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) (Wikipidea)
Flag of the United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) (Wikipidea)

PROJABAR.COM - Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) secara strategis telah menggeser fokus program literasinya di Indonesia. Dari sekadar menuntaskan kemampuan baca-tulis dasar, lembaga internasional ini kini berperan sebagai katalisator untuk membangun keterampilan literasi kritis dan digital di tengah masyarakat. Pergeseran ini merupakan respons terhadap lanskap informasi digital yang kompleks dan paradoks literasi yang unik di Indonesia.

Baca Juga: Nia Purnakia Dorong Jawa Barat jadi Pelopor Literasi Internasional di Hari Literasi Internasional 08 September 2025

Apa yang dimaksud dengan paradoks literasi Indonesia? Data Bank Dunia dan UNESCO Institute for Statistics (UIS) konsisten menunjukkan tingkat melek aksara dewasa Indonesia yang sangat tinggi, yakni melampaui 95% pada 2018. Angka ini mencerminkan keberhasilan monumental pemberantasan buta aksara. Namun, di sisi lain, sebuah statistik yang sering dikutip menyebut minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%, atau diartikan hanya 1 dari 1.000 orang yang rajin membaca. Statistik terakhir ini, yang kerap dikaitkan dengan survei UNESCO sekitar 2012, telah menjadi narasi krisis yang viral.

Mengapa kedua data ini tidak bertentangan? Keduanya sebenarnya mengukur dua hal yang berbeda. Tingkat melek aksara mengukur keterampilan dasar (ability to read), sementara statistik minat baca mengukur praktik budaya (practice of reading). Tantangan sebenarnya bukan lagi pada kemampuan membaca, tetapi pada menciptakan ekosistem yang mendukung kebiasaan membaca dan literasi fungsional.

Siapa yang menjadi sasaran program UNESCO kini? Intervensi terkini difokuskan pada pendidik dan generasi muda. Melalui kemitraan dengan organisasi masyarakat sipil seperti MAFINDO (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia), UNESCO menyelenggarakan pelatihan Literasi Media dan Informasi (LMI) bagi guru-guru SMP dan SMA. Pelatihan ini membekali guru dengan kemampuan mengidentifikasi disinformasi, memahami privasi data, dan etika penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) untuk pendidikan.

Kapan pergeseran strategis ini terjadi? Analisis laporan menunjukkan evolusi terjadi dalam beberapa tahun terakhir, seiring dengan masifnya disruptsi digital dan lompatan penggunaan media sosial serta AI di Indonesia. Sebuah survei UNESCO 2024 mencatat, 80% anak muda Indonesia telah aktif menggunakan AI untuk mendukung pendidikan.

Di mana implementasi program dilakukan? Program LMI awal difokuskan di wilayah Jabodetabek. Sementara itu, pendekatan lain dilakukan dengan mengakui dan mengamplifikasi model literasi akar rumput yang kontekstual, seperti program pendidikan etnografis Institut Sokola untuk masyarakat adat, yang meraih UNESCO Confucius Prize for Literacy pada 2024.

 Pada tahun 2024, Sokola Institute dari Indonesia memenangkan UNESCO Confucius Prize for Literacy melalui programnya,
Pada tahun 2024, Sokola Institute dari Indonesia memenangkan UNESCO Confucius Prize for Literacy melalui programnya, (https://www.sokola.org/)

Bagaimana dampak strategi baru ini? Dampak kuantitatif langsung mungkin terbatas pada jumlah peserta pelatihan. Namun, dampak kualitatifnya signifikan, berupa pengenalan konsep literasi abad ke-21 ke dalam wacana pendidikan nasional, penguatan kapasitas lokal, dan fasilitasi kemitraan strategis antara organisasi masyarakat sipil dan pemerintah. Keberlanjutan dijaga melalui integrasi kompetensi LMI ke dalam Kurikulum Merdeka dan model pemberdayaan komunitas.

Dengan demikian, peran UNESCO di Indonesia kini lebih sebagai fasilitator strategis dan penguat inovasi lokal, menjawab tantangan literasi yang lebih kompleks di era digital.

unesoBaca Juga: Data Terbaru UNESCO Sebut Indonesia Peringkat 6 di ASEAN untuk Kemampuan Membaca, Tapi Masih Kalah dari Negara Tetangga?

Sumber Data:

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Muhammad Cikal Bintang Sayyid Arrazy

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X