“Kurangnya kepercayaan diri, keyakinan, harga diri, dan identitas diri,” sebutnya saat menyampaikan aspirasi kepada bakal calon Wakil Gubernur Jawa Barat, Ilham Habibie.
Ilham Habibie sendiri menyoroti persoalan struktural yang lebih mendasar, yaitu minimnya ketersediaan lapangan pekerjaan tetap bagi Gen Z. Menurutnya, hanya sekitar 25 hingga 30 persen Gen Z yang berhasil mendapatkan pekerjaan tetap.
“Hal ini berkaitan dengan deindustrialisasi yang sedang terjadi. Kita perlu membantu Gen Z agar mendapatkan pekerjaan yang layak dan mendorong kebangkitan industri di Jawa Barat, guna memperkuat lapangan kerja,” tegas Ilham dalam kesempatan yang sama.
Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dalam sambutan MOKA-KU 2025 menegaskan bahwa mahasiswa masa kini dituntut untuk tidak sekadar cerdas secara intelektual.
“Mahasiswa dituntut tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang dalam karakter, memiliki jiwa kepemimpinan, serta peduli pada masyarakat dan lingkungan,” ujarnya saat menyambut 12.519 mahasiswa baru di Kampus Bumi Siliwangi, Bandung, pada 25 Agustus 2025.
Sementara itu, di tataran kebijakan, data BPS Jawa Barat menunjukkan bahwa mayoritas penduduk bekerja di provinsi ini masih didominasi lulusan SMP ke bawah (55,87 persen). Pekerja dengan gelar sarjana justru hanya mencapai 8,36 persen dari total pekerja mengalami penurunan dari 9,15 persen pada Februari 2024.
Pengamat pendidikan UPI, Cecep Darmawan, menilai kondisi ini sebagai alarm serius bagi pemerintah daerah. Menurutnya, rendahnya rata-rata lama sekolah menjadi akar persoalan kualitas sumber daya manusia di Jawa Barat.
“Ini harus menjadi alarm bagi pemerintah daerah khususnya, Pemprov Jawa Barat yang harus fokus membangun sekolah menengah pertama dan atas yang unggul serta merata di seluruh daerah,” ujarnya, seperti dikutip Pikiran Rakyat Koran pada 13 Mei 2025.
Data-data di atas menunjukkan bahwa potret mahasiswa Jawa Barat tahun 2025 mencerminkan paradoks: populasi mahasiswa yang besar dan akses pendidikan tinggi yang semakin luas, namun masih dibayangi oleh tingginya angka pengangguran sarjana dan ketimpangan kualitas pendidikan dasar-menengah.
Ke depan, penguatan program vokasi yang link and match dengan industri serta perluasan akses pendidikan tinggi di luar kawasan perkotaan menjadi pekerjaan rumah bersama bagi pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan sektor swasta di Jawa Barat.
Baca Juga: Bonus Demografi di Persimpangan: 26,86% Penduduk Jabar Gen Z, Tapi 40% Lebih Masih Menganggur
Artikel Terkait
3.600 Pelajar Se-Jabar Hadiri WJSLS 4.0, Dikenalkan Nilai Pancawaluya untuk Perkuat Kepemimpinan dan Peduli Lingkungan
Tiga Regulasi Turunan SPMB 2026/2027 Disosialisasikan di Tegalwaru, Jalur Prestasi Kini Pakai Akumulasi Rapor dan TKA
Program Renovasi 40.000 Rutilahu di Jabar Putarkan Ekonomi, Genteng Plered Banjir Orderan
Jembatan Radug di Bandung Amblas Diterjang Banjir Citarum, Akses Majalaya-Ibun Lumpuh Total
Di Tengah Perang dan Tekanan Global, IHSG Melemah Tipis Namun Rupiah Tembus Rp17.100
Waspada Hujan Lebat, Bandang dan Longsor Ancam Sebagian Besar Jawa Barat Hari Ini
Geng Motor Pelajar di Cimahi Dibekuk, 18 Remaja Diamankan Usai Pengeroyokan Brutal
Bonus Demografi di Persimpangan: 26,86% Penduduk Jabar Gen Z, Tapi 40% Lebih Masih Menganggur
Potret Gen Z Jawa Barat 2026: Digital Native yang Melek Investasi, Kreatif, namun Rentan Gangguan Mental
Gen Z Jabar di Persimpangan: Antara Dominasi Populasi dan Tekanan Finansial, KDM Imbau Tunda Pesta Demi Miliki Rumah