PROJABAR.COM - Banjir besar melanda wilayah Bandung Selatan pada Senin, 13 April 2026, setelah hujan ekstrem meluapkan Sungai Citarum. Sedikitnya tiga kecamatan terdampak parah, dengan ribuan rumah terendam dan akses transportasi utama lumpuh.
Baca Juga: Pasca Bupati Tulungagung Diciduk KPK, Plt Sekda Soeroto Pastikan Pelayanan Publik Tetap Normal
Kapan dan Mengapa Banjir Terjadi?
Bencana ini dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Bandung sejak Jumat, 10 April 2026 hingga Minggu, 12 April 2026 malam.Berdasarkan data dari BPBD Kabupaten Bandung, banjir terjadi akibat meluapnya tiga sungai utama, yakni Sungai Citarum, Sungai Cipalasari, dan Sungai Cigede.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bandung, Beny Sonjaya, menjelaskan bahwa hujan deras membuat debit air sungai meningkat drastis hingga meluap ke permukiman dan jalan raya.
BMKG sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini. Prakirawan BMKG menyatakan pergerakan Siklon Tropis Sinaku, eks Siklon Tropis Maila, dan sirkulasi siklonik menjadi pemicu utama cuaca ekstrem ini.Jawa Barat masuk dalam empat provinsi berstatus siaga hujan lebat hingga sangat lebat pada Senin, 13 April 2026.
Siapa Saja yang Terdampak?
Camat Dayeuhkolot, Asep Suryadi, menyatakan jumlah warga terdampak mencapai 6.877 kepala keluarga atau 19.408 jiwa yang tersebar di sejumlah wilayah di Kecamatan Dayeuhkolot.
"Wilayah terdampak meliputi tiga desa dan satu kelurahan, di antaranya Dayeuhkolot dan Citeureup," ujarnya.
Sejumlah warga telah mengungsi di empat titik, yakni di shelter belakang Kantor Desa Dayeuhkolot serta dua lokasi di Desa Citeureup, masing-masing di Masjid Annur dan Masjid Al Ikhlas. Asep memastikan kebutuhan dasar seperti makanan siap saji, layanan kesehatan, serta perlengkapan darurat telah disiapkan.
Di Mana Saja Wilayah Terdampak?
Tiga kecamatan terdampak paling parah adalah Bojongsoang, Dayeuhkolot, dan Baleendah.
Kecamatan Dayeuhkolot menjadi wilayah paling terdampak. Genangan air mencapai 30 hingga 130 sentimeter di sejumlah titik, meliputi Desa Dayeuhkolot, Desa Citeureup, Desa Cangkuang Wetan, dan Kelurahan Pasawahan.
Di Desa Dayeuhkolot saja, tercatat 4.800 kepala keluarga atau 14.400 jiwa terdampak. Di Kampung Babakan Sangkuriang, ketinggian air mencapai 100 hingga 150 sentimeter, sementara di Kampung Cilisung mencapai 120 hingga 160 sentimeter.
Kecamatan Bojongsoang mengalami banjir di Kampung Cijagra, Desa Bojongsoang, dan RW 20 Desa Bojongsari, dengan ketinggian air berkisar 30 hingga 50 sentimeter.
Kecamatan Baleendah terdampak di Kelurahan Andir dan Baleendah, dengan total 693 kepala keluarga atau 1.723 jiwa terdampak dan ketinggian air antara 30 hingga 60 sentimeter.
Bagaimana Dampak pada Transportasi?
Jalan Raya Dayeuhkolot yang menghubungkan Kabupaten Bandung dan Kota Bandung masih tergenang banjir dengan ketinggian air 30 hingga 60 sentimeter.Kondisi ini membuat kendaraan roda dua tidak bisa melintas sama sekali, hanya mobil dan truk dengan ground clearance tinggi yang masih bisa menerobos.
Dari arah Baleendah, antrean kendaraan terhenti di Jembatan baru Dayeuhkolot. Sementara dari arah Kota Bandung, kendaraan menumpuk di sekitar Pasar Dayeuhkolot. Beberapa warga sekitar memanfaatkan situasi dengan menawarkan jasa dorong motor melewati genangan.
Kemacetan panjang juga terjadi di sepanjang Jalan Raya Bojongsoang menuju Baleendah dan Dayeuhkolot, memaksa warga meninggalkan kendaraan dan berjalan kaki menembus genangan.