GARUT, PROJABAR.COM - Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang bertujuan meningkatkan asupan gizi pelajar di Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, Jawa Barat, justru berujung petaka. Sebanyak 194 pelajar dari tingkat SD hingga MA dilaporkan mengalami keracunan massal setelah menyantap hidangan program tersebut pada Rabu, 17 September 2025. Akibat insiden ini, belasan siswa harus dilarikan ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan perawatan intensif.
Para siswa mulai menunjukkan gejala keracunan secara serentak, seperti mual, muntah hebat, dan pusing, beberapa jam setelah waktu makan siang. Kepanikan pun sempat terjadi saat puluhan siswa mengeluhkan kondisi serupa, mendorong pihak sekolah dan orang tua bergegas membawa mereka ke puskesmas dan klinik terdekat. Data terbaru menyebutkan, dari total 194 korban yang mengalami gejala, 19 di antaranya memerlukan penanganan medis lebih lanjut karena kondisi yang lebih serius.
Baca Juga: Kasus DBD di Garut Tembus 1.776, Dinkes Konfirmasi 8 Orang Meninggal Dunia
Camat Kadungora, Leli Yuliani, mengonfirmasi jumlah korban tersebut. "Total korban yang dirawat terdiri dari 11 orang rawat jalan dan 8 orang rawat inap," ujar Leli, Kamis, 18 September 2025 . Angka ini menunjukkan tingkat keparahan gejala yang bervariasi, di mana sebagian besar bisa pulih setelah penanganan awal, sementara lainnya membutuhkan observasi medis lanjutan.
Menu MBG yang diduga menjadi penyebab keracunan massal ini terdiri dari nasi, orak-arik telur, tumis tahu buncis, dan buah pisang. Menu tersebut dibagikan kepada para pelajar di beberapa sekolah yang berada di bawah satu naungan yayasan serta satu Madrasah Aliyah.
Pihak Kepolisian Resor (Polres) Garut telah turun tangan untuk mengusut tuntas insiden ini. Petugas telah mengamankan sisa sampel makanan dan sampel muntahan dari korban untuk dilakukan uji laboratorium guna memastikan penyebab pasti keracunan, apakah karena kontaminasi bakteri atau faktor lainnya.
"Tim dari Satreskrim Polres Garut sudah turun ke lokasi untuk melakukan penyelidikan dan mengambil sampel makanan," ungkap pihak kepolisian. Penyelidikan kini difokuskan pada pihak penyedia atau katering yang bertanggung jawab atas pengadaan makanan, termasuk menelusuri standar operasional prosedur (SOP) pengolahan dan distribusi untuk menemukan titik kelalaian yang mungkin terjadi.
Baca Juga: Korupsi Proyek Pembangunan SMK di Ciamis, Kejari Tahan Dua ASN Disdik Jabar
(mcbsa)
Artikel Terkait
Invasi Senyap di Bawah Kulit: Apa yang Terjadi saat Cacing Tambang Masuk ke Tubuh Kita?
Pola Pikir Positif vs Negatif, Apakah Memengaruhi Umur Panjang?
Mengapa Kanker Ada? Memahami Penyakit dari Sisi Biologi, Takdir, dan Gaya Hidup
Kenapa Kanker Payudara di Indonesia Sering Terlambat Ketahuan? Fakta Mengejutkan Ini Terungkap!
Perlindungan Diri Saat Demo: Tips Jaga Fisik dan Psikologis
Beban Kesadaran, Saat 'Lebih Baik Dungu' Menjadi Dambaan Logis Penyintas Trauma
Memahami Perasaan 'Menjadi Contoh Buruk' Jebakan Pikiran dan Jalan Pulihnya
Manfaat Jalan Kaki 30 Menit Sehari untuk Kesehatan Tubuh
Trauma Kehilangan Masa Kecil dan Dampaknya pada Rasa Kepemilikan Saat Dewasa
Kasus DBD di Garut Tembus 1.776, Dinkes Konfirmasi 8 Orang Meninggal Dunia