Trauma Kehilangan Masa Kecil dan Dampaknya pada Rasa Kepemilikan Saat Dewasa

photo author
- Senin, 15 September 2025 | 06:00 WIB
Ilustrasi AI, Tips Jitu Mendidik Anak: Mengembangkan Karakter dan Kecerdasan Sejak Dini
Ilustrasi AI, Tips Jitu Mendidik Anak: Mengembangkan Karakter dan Kecerdasan Sejak Dini

 

PROJABAR.COM - Kehilangan yang berulang di masa kecil, terutama melalui pencurian atau perampasan, dapat membentuk sikap apatis terhadap kepemilikan ketika seseorang dewasa. Fenomena ini bukan sekadar persoalan karakter, melainkan bagian dari dampak psikologis yang kompleks.

Baca Juga: Memahami Perasaan 'Menjadi Contoh Buruk' Jebakan Pikiran dan Jalan Pulihnya

Bagaimana Kehilangan Membentuk Pola Pikir

Menurut Martin Seligman (1975), konsep learned helplessness menggambarkan kondisi ketika individu berulang kali menghadapi situasi yang tak bisa dikendalikan hingga akhirnya berhenti berusaha. Studi modern mendukung hal ini. Penelitian pada tahun 2021 yang diterbitkan di Frontiers in Psychology menjelaskan bahwa trauma masa kecil yang berulang meningkatkan risiko gangguan emosi, apatis, dan penurunan motivasi (Frontiers in Psychology, 2021).

Baca Juga: Tips Praktis Menjaga Kesehatan Mental di Dunia Kerja yang Serba Cepat

Dampak Psikologis dan Sosial

Data WHO (World Health Organization) tahun 2022 menunjukkan bahwa 1 dari 4 orang dewasa di dunia mengalami dampak jangka panjang dari pengalaman buruk masa kecil (Adverse Childhood Experiences/ACEs) yang mencakup kekerasan dan kehilangan berulang (WHO, 2022).

Studi longitudinal yang dipublikasikan oleh Journal of Child Psychology and Psychiatry (2020) juga menegaskan bahwa anak-anak yang sering mengalami kehilangan cenderung memiliki tingkat kepercayaan lebih rendah terhadap lingkungan sosial serta kesulitan dalam membangun ikatan dengan benda maupun orang (JCPP, 2020).

Baca Juga: Beban Kesadaran, Saat 'Lebih Baik Dungu' Menjadi Dambaan Logis Penyintas Trauma

Strategi Pemulihan dan Pendekatan Modern

Psikolog klinis saat ini merekomendasikan terapi trauma-informasi. Misalnya, Eye Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR) terbukti efektif mengurangi gejala trauma kronis. Sebuah tinjauan sistematis pada The Lancet Psychiatry (2022) menyatakan EMDR efektif untuk mengurangi intensitas trauma pada penyintas pengalaman buruk masa kecil (The Lancet Psychiatry, 2022).

Selain terapi, pendekatan kecil seperti small wins juga disarankan: merawat barang kecil secara konsisten, menuliskan jurnal, atau latihan asertif. Praktik ini membantu mengembalikan rasa kontrol.

Baca Juga: Pola Pikir Positif vs Negatif, Apakah Memengaruhi Umur Panjang?

Kesimpulan

Trauma kehilangan sejak kecil tidak boleh diremehkan. Bukti ilmiah mutakhir menegaskan adanya hubungan kuat antara kehilangan berulang dengan kesulitan menghargai kepemilikan di usia dewasa. Namun, dengan dukungan terapi, lingkungan aman, dan strategi bertahap, pemulihan tetap sangat mungkin.


Referensi:

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Muhammad Cikal Bintang Sayyid Arrazy

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X