Beban Kesadaran, Saat 'Lebih Baik Dungu' Menjadi Dambaan Logis Penyintas Trauma

photo author
- Jumat, 5 September 2025 | 14:00 WIB
Ilustrasi AI, Beban Kesadaran, Saat 'Lebih Baik Dungu' Menjadi Dambaan Logis Penyintas Trauma
Ilustrasi AI, Beban Kesadaran, Saat 'Lebih Baik Dungu' Menjadi Dambaan Logis Penyintas Trauma

PROJABAR.COM - Bagi sebagian orang, ungkapan "lebih baik tidak tahu" atau "lebih baik dungu" mungkin terdengar seperti penolakan terhadap pengetahuan. Namun, bagi penyintas trauma kompleks (C-PTSD), dambaan ini bukanlah tentang menolak intelegensi, melainkan sebuah jeritan jiwa yang mendambakan kedamaian dari kesadaran yang terasa sebagai beban tak tertanggungkan.

Ini adalah sebuah paradoks yang menyakitkan: kemampuan analisis dan kewaspadaan tajam yang pernah menjadi alat untuk bertahan hidup, kini justru menjadi sumber kelelahan mental yang kronis. Fenomena ini bukanlah imajinasi, melainkan konsekuensi nyata dari cara trauma membentuk ulang otak dan sistem saraf.

Baca Juga: Pola Pikir Positif vs Negatif, Apakah Memengaruhi Umur Panjang?

Hypervigilance; Alarm Bahaya yang Tak Pernah Padam

Pusat dari beban kesadaran ini adalah kondisi psikologis yang disebut hypervigilance atau kewaspadaan berlebih. National Center for PTSD mendefinisikan hypervigilance sebagai keadaan siaga yang berlebihan terhadap potensi bahaya, di mana seseorang terus-menerus memindai lingkungan untuk mencari ancaman.

Bagi penyintas trauma, terutama yang tumbuh di lingkungan tidak stabil, otak mereka terlatih untuk selalu berada dalam mode antisipasi. "Trauma bukan hanya peristiwa yang terjadi di masa lalu; itu juga jejak yang ditinggalkan oleh pengalaman itu pada pikiran, otak, dan tubuh," tulis Dr. Bessel van der Kolk, seorang pakar trauma terkemuka dunia, dalam bukunya yang monumental, "The Body Keeps the Score".

Jejak inilah yang membuat sistem saraf terjebak dalam "mode krisis permanen". Pikiran secara konstan menganalisis nada suara, bahasa tubuh, dan motif tersembunyi dalam setiap interaksi. Ini adalah pekerjaan mental 24/7 yang tidak pernah berhenti, bahkan saat tidak ada ancaman nyata.

Kelelahan Neurologis; Harga dari Kewaspadaan Konstan

Beroperasi dalam mode siaga tinggi secara terus-menerus membakar sumber daya kognitif dan fisik dalam jumlah luar biasa. Tubuh dibanjiri hormon stres seperti kortisol dan adrenalin, yang jika berlangsung lama, akan menyebabkan kelelahan neurologis.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Traumatic Stress pada tahun 2023 menemukan bahwa penyintas trauma sering menunjukkan "sumber daya kognitif yang terkuras" (depleted cognitive resources). Hal ini disebabkan oleh kebutuhan konstan untuk pemantauan ancaman, yang menyisakan sedikit sekali energi untuk fungsi lain seperti konsentrasi, regulasi emosi, atau bahkan merasakan kegembiraan.

Akibatnya, aktivitas sederhana seperti bersosialisasi atau bekerja bisa terasa sama melelahkannya dengan lari maraton. Keinginan untuk tidur berlebihan (hipersomnia) atau menarik diri (apatis) bukanlah tanda kemalasan, melainkan upaya sistem untuk melakukan 'shutdown' darurat demi mencegah kerusakan lebih lanjut.

Dambaan akan 'Dungu'; Mencari Gencatan Senjata Psikis

Dalam konteks inilah, dambaan untuk menjadi "dungu" menjadi sangat logis. Ini bukanlah keinginan untuk menjadi bodoh, melainkan sebuah dambaan mendalam untuk mematikan alarm internal yang bising. Ini adalah keinginan untuk bisa melihat dunia tanpa perlu menganalisisnya, untuk memercayai orang lain tanpa skeptisisme defensif, dan untuk merasakan satu momen kedamaian di mana pikiran tidak lagi menjadi medan perang.

Psikolog klinis Dr. Arielle Schwartz, yang berspesialisasi dalam C-PTSD, menjelaskan bahwa proses penyembuhan sering kali melibatkan upaya untuk membantu sistem saraf belajar kembali bagaimana rasanya aman. Ini bukan tentang menghilangkan kesadaran, tetapi tentang mengintegrasikannya sehingga tidak lagi mendominasi setiap detik kehidupan.

Pada akhirnya, keinginan untuk "tidak tahu" adalah sebuah seruan untuk istirahat. Ini adalah pengakuan dari seorang penyintas bahwa kewaspadaan yang pernah menyelamatkan hidup mereka kini telah meminta bayaran yang terlalu mahal: kedamaian batin mereka sendiri.

Baca Juga: Kesehatan Mental di Era Digital: Menjaga Keseimbangan di Tengah Banjir Informasi

(mcbsa)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Muhammad Cikal Bintang Sayyid Arrazy

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X