Dewasa Tak Lagi di Usia 21: Implikasi Kesehatan Mental dan Kebijakan bagi Generasi Muda

photo author
Salman Annajibi, ProJabar
- Rabu, 21 Mei 2025 | 14:00 WIB
Ilustrasi mental health
Ilustrasi mental health

PROJABAR.COM - Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam The Lancet mengungkapkan bahwa masa transisi dari remaja menuju dewasa ternyata berlangsung lebih lama daripada yang selama ini diyakini. Perkembangan otak, khususnya di bagian yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan, pengendalian emosi, dan regulasi diri, tidak sepenuhnya matang pada usia 18–21 tahun. Faktanya, proses ini terus berlanjut hingga seseorang mencapai usia 30 tahun.  

Dari segi sosial, peralihan menuju peran-peran dewasa—seperti memiliki pekerjaan tetap, menikah, atau mandiri secara finansial—juga mengalami keterlambatan. Kondisi ekonomi yang tidak menentu dan semakin lamanya masa pendidikan membuat fase ketergantungan individu terhadap orang tua atau pihak lain menjadi lebih panjang. Oleh karena itu, definisi remaja yang sebelumnya mencakup usia 10–19 tahun kini dapat diperluas hingga usia 24 tahun.  

Lebih jauh lagi, para peneliti seperti Sarah-Jayne Blakemore dan Peter Jones dari Universitas Cambridge bahkan menyatakan bahwa transisi dari remaja ke dewasa sebenarnya baru dimulai pada rentang usia 30–34 tahun. Temuan ini menunjukkan bahwa ketidakstabilan emosional dan sosial di usia 20-an bukanlah suatu kegagalan, melainkan bagian alami dari proses perkembangan menuju kedewasaan.  

Baca Juga: 10 Jurus Jitu Jaga Kesehatan Mental Ala Warga Jawa Barat

Baca Juga: Bahaya Mengintai di Balik Kebiasaan Begadang Setiap Hari: Dampak Buruk yang Perlu Anda Ketahui

Pengaruh Perubahan Sosial dan Ekonomi terhadap Perpanjangan Masa Remaja

Salah satu faktor utama yang memperpanjang masa remaja adalah perubahan struktur sosial dan ekonomi global. Dibandingkan dengan generasi sebelumnya, anak muda saat ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks, seperti persaingan ketat di dunia kerja, biaya hidup yang tinggi, dan ketidakpastian ekonomi. Kondisi ini memaksa banyak individu untuk menunda langkah-langkah penting dalam hidup, seperti membangun keluarga atau membeli rumah, hingga mereka merasa benar-benar siap secara finansial dan emosional.  

Selain itu, sistem pendidikan yang semakin panjang juga berkontribusi pada perpanjangan fase ketergantungan. Banyak pemuda yang memilih untuk melanjutkan studi ke jenjang magister atau doktoral guna meningkatkan kompetensi mereka di pasar kerja. Akibatnya, kemandirian finansial seringkali baru tercapai di usia yang lebih tua.  

Perkembangan Otak dan Kematangan Emosional

Dari sisi neurologis, otak manusia terus mengalami perkembangan signifikan hingga usia 30 tahun. Bagian prefrontal cortex, yang berperan dalam pengambilan keputusan, perencanaan, dan pengendalian impuls, adalah salah satu area yang paling lambat matang. Hal ini menjelaskan mengapa banyak orang di usia 20-an masih cenderung impulsif, mudah terpengaruh emosi, atau kesulitan membuat keputusan jangka panjang.  

Penelitian juga menunjukkan bahwa pengalaman hidup dan lingkungan sosial turut memengaruhi kecepatan kematangan otak. Individu yang tumbuh dalam lingkungan penuh tekanan atau ketidakstabilan mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai kematangan emosional dibandingkan mereka yang mendapatkan dukungan penuh dari keluarga dan lingkungan.  

Baca Juga: Jabar Darurat Depresi! Langkah Strategis Menuju Kebahagiaan Masyarakat

Dampak terhadap Kebijakan Sosial dan

Baca Juga: Kebiasaan Sederhana yang Meningkatkan Peluang Jadi Jutawan: Dari Merapikan Tempat Tidur hingga Bangun Pagi Kesehatan Mental

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Salman Annajibi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X