kesehatan

1.333 Warga Bandung Barat Keracunan Massal Usai Santap Makan Bergizi Gratis (MBG)

Kamis, 25 September 2025 | 21:46 WIB
Ilustrasi MBG. (Ayobandung.com)

PROJABAR.COM – Sebanyak 1.333 warga di Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB), menjadi korban dalam peristiwa keracunan makanan masal setelah mengonsumsi hidangan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kejadian luar biasa (KLB) ini merupakan akumulasi dari tiga gelombang keracunan yang terjadi secara beruntun sejak Senin, 22 September, hingga Rabu, 24 September 2025. Ratusan korban, yang didominasi oleh pelajar, dilaporkan mengalami gejala mual, pusing, sesak napas, muntah, hingga kejang-kejang.

Baca Juga: Gubernur Jabar Sebutkan Rencana Evaluasi Bersama Kepala BGN Usai Menyebarnya Kasus Keracunan Massal

Kronologi dan Perkembangan Kasus

Peristiwa ini pertama kali terjadi pada Senin, 22 September 2025. Puluhan hingga 70 siswa dilaporkan keracunan tak lama setelah menyantap menu dari program MBG. Esok harinya, Selasa, 23 September 2025, jumlah korban yang terdampak melonjak menjadi 352 orang. Meningkatnya korban mendorong Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, turun langsung ke lokasi untuk meninjau kondisi korban dan memeriksa dapur penyedia makanan.

Namun, gelombang keracunan terbesar terjadi pada Rabu, 24 September 2025. Ratusan pelajar kembali mengalami keracunan sekitar dua jam setelah jam makan siang. Lonjakan korban yang sangat signifikan membuat fasilitas kesehatan darurat, seperti Gedung Olah Raga (GOR) Cipongkor, puskesmas, dan masjid, menjadi penuh oleh korban yang membutuhkan perawatan. Menyikapi hal ini, operasional Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Cipongkor akhirnya dihentikan sementara.

Hingga Kamis, 25 September 2025 siang, data terbaru yang dihimpun dari penanganan darurat menunjukkan total korban mencapai 1.333 orang. Kasus juga mulai meluas hingga ke Kecamatan Cihampelas. Merespons skala kejadian ini, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program MBG dan memanggil pihak BGN untuk meminta pertanggungjawaban.

Baca Juga: 20 Kasus Keracunan Massal MBG Tersebar di 11 Daerah Jabar, Dampaknya Menyerang Semakin Meluas

Dugaan Penyebab Keracunan

Meski penyelidikan resmi oleh pihak berwenang masih berlangsung, sejumlah dugaan awal penyebab keracunan telah mengemuka. Wakil Ketua DPR RI menduga bahwa penggunaan ayam yang tidak segar menjadi pemicu utama. Sampel makanan telah diambil untuk pemeriksaan laboratorium lebih lanjut oleh kepolisian.

Dari sisi teknis pelaksanaan, Kepala BGN Dadan Hindayana mengungkapkan adanya kendala di dapur SPPG. “Ada kendala teknis, seperti proses memasak yang terlalu awal,” ujarnya seperti dilansir dari sumber berita. Secara umum, keracunan makanan pada skala masal sering kali dikaitkan dengan kontaminasi bakteri patogen seperti Salmonella atau E. coli yang dapat berkembang biak pada makanan yang tidak disimpan atau diolah dengan higienis.

Respons dan Langkah Penanganan

Untuk mempercepat penanganan, Bupati Bandung Barat telah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan makanan. Para korban mendapat perawatan intensif di berbagai titik, termasuk GOR Cipongkor, puskesmas, dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cililin.

Langkah evaluasi program pun segera diambil. Selain penghentian sementara dapur SPPG, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan komitmennya untuk meninjau ulang mekanisme pelaksanaan program MBG di seluruh wilayah Jawa Barat guna mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.

Baca Juga: Kasus Keracunan Massal MBG Picu Kekhawatiran Orang Tua dan Goyahkan Kepercayaan Publik

Tags

Terkini