PROJABAR.COM – Insiden pembagian minuman beralkohol jenis bir dalam ajang lari Pocari Sweat Run 2025 yang digelar di Kota Bandung akhir pekan lalu kini menuai respons keras dari kalangan kesehatan.
Sejumlah pakar menilai tindakan tersebut tidak hanya melanggar peraturan daerah, tetapi juga bertentangan secara prinsipil dengan semangat hidup sehat yang seharusnya menjadi inti dari kegiatan olahraga.
Baca Juga: Geger Bagi-bagi Bir di Ajang Lari Bandung, Pemkot Lakukan Pemanggilan dan Minta Maaf
Dr. Weningtyas Arifin, pakar kesehatan masyarakat dari Universitas Padjadjaran, menyampaikan keprihatinannya terhadap insiden yang telah menjadi viral tersebut.
Menurutnya, konsumsi alkohol terutama dalam konteks publik dan disertai dengan kegiatan fisik berpotensi menimbulkan efek negatif, baik dari sisi medis maupun sosial.
"Ini sangat tidak tepat. Olahraga seharusnya dikaitkan dengan gaya hidup sehat, pemulihan tubuh, hidrasi yang cukup, dan kesadaran akan kesehatan jangka panjang. Alkohol justru bertolak belakang karena memberi dampak dehidrasi, memperlambat pemulihan otot, dan bisa menurunkan performa tubuh secara umum," ujar Weningtyas saat diwawancarai.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa pemberian bir secara gratis dalam acara publik yang melibatkan peserta dari berbagai kelompok usia dapat memicu normalisasi konsumsi alkohol, bahkan di tengah masyarakat yang belum cukup dewasa secara hukum maupun sosial untuk menanganinya.
Pemerintah Kota Bandung melalui Kepala Diskominfo, Yayan Brilyana, sebelumnya telah menyatakan permohonan maaf kepada masyarakat dan menyesalkan kelalaian dalam pengawasan kegiatan.
Tim Yustisi telah diperintahkan memanggil pihak penyelenggara dan komunitas yang terlibat untuk dilakukan penelusuran dan penegakan aturan sesuai Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 10 Tahun 2024 tentang Pengawasan dan Pengendalian Minuman Beralkohol.
Namun di sisi lain, pakar menilai insiden ini juga menandakan lemahnya kontrol dan kurangnya edukasi tentang bahaya alkohol, terutama ketika dikaitkan dengan kegiatan kebugaran.
"Harus ada kurikulum gaya hidup sehat yang lebih intens disisipkan dalam setiap event olahraga. Jangan sampai acara lari dijadikan peluang promosi untuk sesuatu yang jelas-jelas membahayakan tubuh," tegas Weningtyas.
Ia berharap penyelenggara kegiatan olahraga ke depan lebih selektif dalam menggandeng sponsor atau komunitas yang terlibat, dan harus benar-benar memahami esensi dari olahraga sebagai sarana kampanye hidup sehat, bukan sekadar hiburan atau ajang promosi bebas kontrol.
Baca Juga: Mayor Teddy Segera Tegaskan Tak Ada Alkohol dalam Jamuan Resmi Presiden Prabowo dan Macron
Sementara itu, berbagai kelompok masyarakat, termasuk organisasi kepemudaan dan keagamaan di Bandung, turut menyuarakan keprihatinan mereka atas insiden ini.
Artikel Terkait
Varian SARS-CoV-2 Nimbus (NB.1.8.1)
Manfaat Minum Kopi di Pagi Hari: Lebih dari Sekadar Kebiasaan
Manfaat Minum Teh Hijau di Pagi Hari: Alternatif Sehat untuk Memulai Hari
Manfaat Jalan Kaki di Pagi Hari: Langkah Sehat untuk Memulai Hari
Tingkatkan Joging dan Lari Anda: Panduan Komprehensif untuk Semua Level
Jadikan Jogging dan Lari Kamu Lebih Berkualiatas! Terapkan Tips dan Saran Berikut
Manfaat Digital Detox: Cara Ampuh Atasi Cemas dan Kembali Fokus
Kenali 5 Gejala Burnout yang Sering Diabaikan Pekerja Kantoran
Kesehatan Mental di Era Digital: Menjaga Keseimbangan di Tengah Banjir Informasi
CRISPR-Cas9: Revolusi Pengeditan Gen dan Masa Depan Bioteknologi