PROJABAR.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah muncul dugaan bahwa makanan basi menjadi penyebab keracunan massal di Jawa Barat.
Data terbaru menunjukkan, sedikitnya ada 20 kasus keracunan yang tercatat di 11 kota dan kabupaten, mulai dari Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Kabupaten Cianjur, Garut, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Tasikmalaya, Kota Cirebon, Kota Cimahi, hingga Kabupaten Sukabumi.
Baca Juga: Ratusan Siswa Keracunan Usai Santap MBG di Bandung Barat, Pemprov Jabar Janjikan Evaluasi Total
Kepala Laboratorium Kesehatan (Labkes) Provinsi Jawa Barat, dr Ryan Bayusantika Ristandi, menjelaskan bahwa ada dua faktor utama yang menyebabkan makanan dalam program MBG cepat basi, yaitu faktor mikrobiologi dan fisik.
"Faktor mikrobiologi, terjadi pertumbuhan bakteri pada makanan yang kaya nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak," ujar Ryan saat memberikan keterangan.
Ryan menambahkan, kondisi penyimpanan makanan menjadi kunci utama dalam mencegah perkembangan bakteri berbahaya. Jika makanan disimpan terlalu lama di suhu ruang, mikroba patogen pembusuk dapat berkembang pesat.
Beberapa di antaranya adalah Escherichia coli, Salmonella, Bacillus cereus, dan Staphylococcus aureus yang dikenal berbahaya bagi kesehatan. Ia juga menyinggung standar teknis yang seharusnya dipatuhi dalam penanganan makanan.
"Berdasarkan SNI ISO 7218 terkait suhu penyimpanan sampel makanan segar, penyimpanan pada suhu 0–4 derajat maksimal 24 jam sebelum dilakukan pemeriksaan. Jika tidak diperiksa dalam waktu dekat, minimal suhu penyimpanannya di -18 derajat," ungkap Ryan.
Baca Juga: Gubernur Jabar Sebutkan Rencana Evaluasi Bersama Kepala MBG Usai Menyebarnya Kasus Keracunan Massal
Temuan ini semakin menguatkan dugaan bahwa kurang optimalnya pengawasan terhadap distribusi dan penyimpanan makanan MBG menjadi faktor utama munculnya kasus keracunan di sejumlah daerah.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat kini diminta segera mengambil langkah tegas agar kasus serupa tidak kembali terulang, mengingat jumlah korban yang terus bertambah dari berbagai tingkatan usia, terutama pelajar.***